RADARTUBAN – Gemerlap Liga Champions UEFA bukan sekadar soal trofi. Uang mengalir deras, dan musim 2025/2026 menghadirkan fakta mencolok: tujuh klub elite Eropa sudah mengantongi lebih dari € 100 juta hanya dari kompetisi ini.
Data yang dirilis akun X Football Meets Data menyebut : Tujuh klub telah menghasilkan lebih dari € 100 juta dari UEFA musim ini—semuanya dari Liga Champions.
Bayern Terdepan, Arsenal Mengancam
Di puncak daftar, Bayern Munich memimpin dengan € 127,3 juta. Tepat di belakangnya, Arsenal membayangi dengan € 124,7 juta, diikuti Paris Saint-Germain (€ 120,9 juta).
Baca Juga: Selisih Tipis Spanyol dan Jerman Panaskan Perburuan Slot Tambahan Liga Champions Musim Depan
Arsenal bahkan mencatat performa paling eksplosif. Mereka menjadi klub dengan pendapatan “performance” terbesar.
Sumber yang sama menyebut: “Arsenal memimpin dengan pendapatan performa terbesar (€ 68,1 juta) berkat 8 kemenangan fase liga + bonus juara grup + lolos semifinal."
Formula Uang UEFA: Tak Sekadar Menang
Setiap klub peserta otomatis mengantongi € 18,6 juta sebagai biaya partisipasi. Namun selebihnya ditentukan oleh performa dan faktor komersial.
Pendapatan dibagi dalam tiga komponen utama: starting fee, performance rewards, dan value pillar—yang mencakup nilai pasar siaran televisi serta koefisien klub dalam lima hingga sepuluh tahun terakhir.
Menariknya, Paris Saint-Germain unggul di sektor komersial. Dari tujuh tim, PSG memiliki Value Pillar terkuat sebesar € 44,1 juta.
Dominasi Spanyol, Inggris Membayangi
Dari tujuh klub, tiga berasal dari Spanyol: Atlético Madrid, Real Madrid, dan FC Barcelona. Inggris menyusul dengan dua wakil, Arsenal dan Liverpool.
Fenomena ini menegaskan kekuatan finansial La Liga di level elite, meski Premier League tetap agresif dalam performa kompetitif.
Satu fakta menarik datang dari Manchester City. Manchester City adalah nomor satu dalam Value Pillar di Eropa (€ 45,4 juta), namun finis tepat di luar klub € 100 juta.
Uang dan Prestasi: Dua Sisi Mata Uang
Distribusi dana UEFA kini semakin kompleks—menggabungkan prestasi di lapangan dan kekuatan pasar. Artinya, klub tak hanya dituntut menang, tetapi juga harus “besar” secara global.
Musim ini membuktikan satu hal: di Liga Champions, kejayaan bukan hanya di papan skor—tetapi juga di neraca keuangan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni