RADARTUBAN – Tidak sedikit pria yang menunjukkan performa luar biasa di tempat kerja—disiplin, fokus, dan penuh inisiatif—namun justru terlihat berbeda saat berada di rumah.
Mereka cenderung pasif, kurang terlibat, bahkan menghindari tanggung jawab domestik.
Fenomena ini kerap menimbulkan tanda tanya, baik bagi pasangan maupun diri mereka sendiri.
Namun, dalam sudut pandang psikologi, perbedaan ini bukan sekadar persoalan niat atau kemauan, melainkan berkaitan dengan pola pikir, kondisi mental, serta cara seseorang memandang perannya dalam kehidupan.
Mengacu pada berbagai kajian psikologi, terdapat sejumlah ciri yang umum muncul pada pria dengan pola tersebut.
1. Memisahkan Peran Secara Kaku
Sebagian pria memiliki batas tegas antara kehidupan kerja dan rumah.
Saat di kantor, mereka berada dalam “mode produktif”, sedangkan di rumah beralih ke “mode istirahat total”. Pola ini dikenal sebagai compartmentalization, yaitu kecenderungan memisahkan peran hidup secara ekstrem.
2. Rumah Dianggap Tempat Istirahat Penuh
Rumah sering dipandang sebagai ruang untuk sepenuhnya melepas lelah.
Aktivitas seperti membereskan rumah atau membantu pasangan dianggap sebagai tambahan beban, padahal justru bisa membantu menjaga keseimbangan mental.
3. Bergantung pada Dorongan Eksternal
Lingkungan kerja menyediakan target, aturan, dan penghargaan yang mendorong produktivitas. Sebaliknya, di rumah tidak ada tekanan serupa. Akibatnya, pria dengan pola ini cenderung sulit bergerak tanpa dorongan dari luar.
4. Mengalami Kelelahan Mental
Setelah seharian mengambil keputusan, otak bisa mengalami decision fatigue. Kondisi ini membuat seseorang enggan mengambil keputusan sederhana di rumah, sehingga terlihat pasif.
5. Standar Berbeda antara Kerja dan Rumah
Perfeksionisme yang tinggi di tempat kerja sering tidak terbawa ke rumah. Hal ini terjadi karena pekerjaan rumah tangga jarang mendapat penilaian formal, sehingga tidak dianggap sebagai prioritas.
6. Identitas Diri Terikat pada Pekerjaan
Bagi sebagian pria, pekerjaan menjadi sumber utama harga diri dan pengakuan sosial. Akibatnya, energi dan perhatian lebih banyak tercurah ke karier dibanding kehidupan rumah tangga.
7. Menghindari Tuntutan Emosional
Lingkungan kerja cenderung rasional dan terukur, sementara kehidupan rumah penuh dengan aspek emosional. Ketidaknyamanan dalam menghadapi hal-hal emosional membuat sebagian pria memilih bersikap pasif.
8. Merasa Sudah Berkontribusi Cukup
Ada anggapan bahwa kerja keras di luar rumah sudah cukup sebagai bentuk kontribusi. Pola pikir ini kemudian menjadi pembenaran untuk tidak aktif dalam urusan domestik.
Bukan Sekadar Malas
Psikologi menegaskan bahwa perilaku ini bukan semata-mata kemalasan, melainkan hasil dari kombinasi kelelahan mental, pola motivasi, dan cara memaknai peran hidup.
Meski demikian, pola ini bukan sesuatu yang permanen. Dengan kesadaran diri, membangun motivasi dari dalam, serta melihat rumah sebagai bagian penting dari kehidupan, keseimbangan dapat dicapai.
Langkah sederhana seperti berbagi tugas, membuat rutinitas ringan, dan meningkatkan kehadiran emosional di rumah bisa membawa perubahan besar—tidak hanya bagi hubungan keluarga, tetapi juga kualitas hidup secara keseluruhan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni