Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jika Ingin Hidup Benar-Benar Damai, Hentikan 7 Kebiasaan Ini Segera Menurut Psikologi

Cicik Nur Latifah • Senin, 20 April 2026 | 19:53 WIB
seseorang yang hidupnya benar-benar damai. (Freepik/user3980505)
seseorang yang hidupnya benar-benar damai. (Freepik/user3980505)

RADARTUBAN – Kedamaian hidup tidak hadir begitu saja. Kondisi ini merupakan hasil dari pilihan sadar seseorang, baik dalam bertindak, berpikir, maupun menentukan hal-hal yang perlu dihentikan.

Selama ini, banyak orang beranggapan bahwa ketenangan bisa dicapai dengan menambah berbagai hal dalam hidup, seperti pencapaian, materi, atau pengakuan dari orang lain.

Namun, pendekatan psikologi justru menunjukkan sebaliknya—ketenangan sering kali hadir ketika seseorang mulai mengurangi beban mental dan emosional yang tidak perlu.

Baca Juga: Ketegangan Memuncak! Iran Pilih Terus Melawan dan Abaikan Upaya Damai Amerika Serikat

Dilansir dari Expert Editor, terdapat sejumlah kebiasaan yang tanpa disadari dapat menguras energi dan mengganggu kestabilan emosi.

Menghentikan kebiasaan tersebut menjadi langkah awal menuju hidup yang lebih damai.

Pertama, berhenti memikirkan hal-hal yang berada di luar kendali. Keinginan untuk mengontrol segala sesuatu kerap memicu stres berkepanjangan.

Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai illusion of control. Menyadari batas kendali diri membantu seseorang menghemat energi mental untuk hal yang lebih bermakna.

Kedua, menghentikan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Perbandingan sosial, terutama yang dipicu media sosial, dapat menurunkan rasa percaya diri dan meningkatkan kecemasan.

Setiap individu memiliki perjalanan hidup yang berbeda, sehingga fokus pada diri sendiri menjadi kunci ketenangan.

Ketiga, tidak lagi berusaha menyenangkan semua orang. Sikap people pleasing sering membuat seseorang mengabaikan kebutuhan pribadi.

Dalam jangka panjang, hal ini dapat memicu kelelahan emosional dan kehilangan jati diri. Belajar mengatakan “tidak” menjadi bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.

Keempat, mengurangi kritik berlebihan terhadap diri sendiri. Alih-alih memotivasi, kebiasaan ini justru dapat meningkatkan stres dan rasa bersalah.

Pendekatan self-compassion atau berbelas kasih pada diri sendiri dinilai lebih efektif dalam menjaga kesehatan mental.

Kelima, berhenti terjebak dalam masa lalu. Mengulang-ulang pengalaman negatif atau rumination hanya akan menghambat langkah ke depan.

Masa lalu memang tidak bisa diubah, namun cara memaknainya masih bisa diperbaiki.

Keenam, tidak berlebihan mengkhawatirkan masa depan. Kecemasan terhadap hal yang belum terjadi, atau anticipatory anxiety, sering membuat seseorang kehilangan fokus pada masa kini.

Melatih mindfulness dapat membantu individu lebih hadir dan menikmati setiap momen.

Ketujuh, tidak mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Banyak orang terlalu sibuk memenuhi tuntutan hingga lupa merawat kesehatan mental dan emosional.

Padahal, self-care merupakan kebutuhan dasar untuk menjaga keseimbangan hidup.

Pada akhirnya, kedamaian bukanlah sesuatu yang harus dicari jauh di luar diri. Ia sudah ada, namun sering tertutup oleh pola pikir dan kebiasaan yang tidak sehat.

Dengan menghentikan tujuh hal tersebut secara bertahap dan konsisten, setiap individu dapat membuka ruang bagi ketenangan untuk tumbuh.

Hidup yang damai bukan tentang memiliki segalanya, melainkan tentang tidak lagi terbebani oleh hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#kestabilan emosi #kedamaian hidup #psikologi #Emosional