RADARTUBAN – Harapan besar diletakkan pada pundak generasi muda sebagai "Generasi Emas". Namun, fakta di lapangan justru menunjukkan fenomena "Generasi Cemas".
Banyak anak muda yang merasa kehilangan arah, tertekan oleh standar sosial yang tinggi, hingga mengalami sabotase diri (self-sabotage) karena takut gagal sebelum mencoba.
Menanggapi hal tersebut, Psikolog Samanta Elsener menegaskan bahwa rasa cemas yang muncul merupakan bagian dari fase perkembangan psikososial yang wajar, terutama bagi mereka yang berada di rentang usia quarter life crisis.
Menurutnya, kecemasan muncul ketika seseorang mulai kehilangan pijakan pada identitas aslinya demi mengejar ekspektasi lingkungan.
Baca Juga: Quarter Life Crisis: Tekanan Sosial, Karier, dan Identitas Diri Anak Muda
Melawan Ego dan Sabotase Diri
Seringkali, distraksi digital seperti scrolling media sosial tanpa henti menjadi pelarian saat seseorang merasa buntu.
Samanta menilai, perilaku ini sering kali merupakan bentuk "portal" atau pembatasan diri yang sengaja dibuat karena mental yang sedang burnout.
"Kita perlu memahami apakah kita benar-benar tidak punya fokus, atau kita yang sedang membuat gerbang terhadap tugas-tugas itu. Kita memportal diri kita karena merasa tidak kuat," jelas Samanta dalam diskusi bertajuk Kartini Masa Kini.
Ia menekankan bahwa melawan sistem memang penting, namun yang jauh lebih krusial adalah kemampuan untuk melawan ego sendiri yang sering kali menyesatkan pilihan hidup ke arah yang merugikan.
Privilese di Balik Kekurangan
Menariknya, Samanta mengajak generasi muda untuk melihat privilese dari sudut pandang yang berbeda.
Jika selama ini privilese hanya dikaitkan dengan harta dan koneksi, ia menyebut bahwa kondisi "belum menjadi siapa-siapa" adalah sebuah privilese tersendiri bagi anak muda karena memiliki fleksibilitas dan ruang gerak yang lebih luas.
"Kondisi kita justru akan lebih fleksibel ketika kita belum jadi apa-apa. Kamu masih punya banyak pilihan dalam hidup dan kesempatan untuk menciptakan pengalaman sendiri," tuturnya memberi motivasi.
Kebutuhan akan Empati, Bukan Sekadar Informasi
Di era di mana informasi kesehatan mental bisa didapat dengan mudah melalui bantuan AI, Samanta mengingatkan bahwa ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin: empati.
Proses penyembuhan luka batin atau healing membutuhkan kehadiran sosok yang mampu memvalidasi perasaan tanpa menghakimi.
"Informasi bisa didapat dari mana pun, tapi empati itu susah. Itulah kenapa proses pendampingan profesional menjadi penting untuk memberikan 'pemuliaan' yang mungkin tidak didapat sejak kecil," pungkasnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni