Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Sering Marah atau Sedih Saat Haid? Psikiatri Jelaskan Mengapa Hormon Bisa Mengambil Alih Kendali Otak Anda

M Robit Bilhaq • Sabtu, 25 April 2026 | 11:36 WIB
Ilustrasi remaja yang sedang meluapkan amarah
Ilustrasi remaja yang sedang meluapkan amarah
RADARTUBAN - Sering kali muncul anggapan bahwa kaum perempuan menjadi terlampau sensitif ketika sedang berada dalam masa menstruasi.

Namun, berdasarkan penjelasan dari kalangan medis, pergeseran emosional yang terjadi tersebut bukanlah sekadar perasaan subjektif belaka, melainkan dipicu oleh mekanisme biologis yang nyata terjadi di dalam sistem tubuh.

Seorang pakar di bidang kesehatan jiwa memaparkan bahwa fluktuasi hormon, terutama estrogen, memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap kondisi suasana hati perempuan selama siklus haid berlangsung.

Baca Juga: Cara Alami Atasi Kram Perut Saat Menstruasi Tanpa Obat Kimia, Ini 5 Pilihan Obat Rumahan yang Mudah Dicoba

Anjloknya kadar hormon ini diketahui mampu memengaruhi stabilitas zat kimia di dalam otak, seperti serotonin serta dopamin, yang perannya sangat krusial dalam mengatur emosi serta tingkat energi seseorang.

Sebagai dampaknya, seorang perempuan dapat merasakan perubahan perasaan yang sangat dinamis, seperti merasa sedih dengan mudah, tersulut kemarahan, atau justru merasa sangat gembira dalam durasi waktu yang relatif pendek.

Psikiatri Elvine Gunawan, dalam sebuah forum diskusi media bersama Laurier pada hari Selasa (21/4), menjelaskan bahwa pada fase awal menstruasi, tingkat kepekaan terhadap reaksi orang di sekitar juga mengalami peningkatan, sehingga permasalahan kecil pun dapat terasa jauh lebih besar dari yang sebenarnya.

Fenomena ini pada dasarnya merupakan hal yang wajar dan menjadi pengalaman bulanan bagi banyak perempuan.

Kendati demikian, pada situasi tertentu, pergeseran emosi tersebut dapat berkembang menjadi sangat ekstrem dan mengarah pada sebuah kondisi klinis yang dikenal dengan istilah premenstrual dysphoric disorder (PMDD).

Dalam kondisi PMDD tersebut, perempuan bisa merasakan kesedihan yang sangat mendalam hingga kehilangan tenaga, cenderung mengisolasi diri, bahkan memperlihatkan gejala-gejala yang serupa dengan depresi.

Oleh sebab itu, sangat penting untuk memahami garis pembatas antara perubahan suasana hati yang bersifat normal dengan kondisi yang memerlukan asistensi dari tenaga profesional.

Selain faktor internal biologis, beratnya pengalaman saat menstruasi juga sering kali diperburuk oleh reaksi dari lingkungan sosial di sekitarnya.

Banyak perempuan merasa suara mereka tidak benar-benar diperhatikan, lantaran keluhan-keluhan yang disampaikan kerap dianggap sepele atau sekadar dipandang sebagai efek samping haid yang biasa.

Sosok figur publik Maudy Ayunda turut menyampaikan bahwa salah satu hal yang paling krusial dibutuhkan saat masa menstruasi bukanlah sekadar anjuran medis, melainkan empati dan pemahaman.

Menurut pandangannya, tanggapan standar seperti perintah untuk beristirahat saja atau imbauan untuk banyak minum air hangat sering kali terasa seperti jawaban yang sudah terpola dan tidak benar-benar menjawab kebutuhan yang dirasakan.

Dirinya memberikan penekanan mengenai pentingnya keberadaan sistem pendukung yang bersedia untuk menyimak dan bertanya, alih-alih langsung memberikan penilaian negatif.

Maudy berpendapat bahwa terkadang yang paling dibutuhkan hanyalah pertanyaan simpel mengenai bantuan apa yang sedang diperlukan, karena hal tersebut dapat memberikan rasa bahwa keluhannya didengarkan.

Bagi perempuan yang memiliki jadwal kegiatan yang padat, datangnya masa menstruasi memang bukan menjadi alasan untuk menghentikan seluruh aktivitas secara total.

Namun, sokongan dari lingkungan sekitar menjadi faktor kunci agar mereka tetap bisa menjalani rutinitas harian dengan rasa nyaman.

Dokter Elvine juga memberikan pengingat akan pentingnya menjalankan pola hidup yang sehat demi membantu tubuh beradaptasi selama fase ini.

Aktivitas olahraga, asupan nutrisi yang proporsional, serta waktu tidur yang mencukupi dipercaya dapat membantu menyeimbangkan kondisi fisik sekaligus emosional selama siklus berlangsung.

Selain hal-hal tersebut, membangun komunikasi yang transparan dengan pasangan atau orang-orang terdekat juga dinilai sangat krusial.

Mengomunikasikan kebutuhan secara lugas dan langsung dipandang jauh lebih berdaya guna dibandingkan dengan hanya memberikan isyarat tertentu yang sering kali justru tidak tertangkap dengan jelas oleh pihak lain. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Premenstrual Dysphoric Disorder #haid #perempuan #Estrogen #menstruasi