Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Yang Viral Belum Tentu Baik: Cara Menghindari FOMO di Era Media Sosial

M. Afiqul Adib • Rabu, 20 Mei 2026 | 18:44 WIB
Fenomena FOMO di media sosial, alasan orang mudah ikut tren viral, serta dampaknya terhadap keuangan dan mental. (Compagnons on Unsplash)
Fenomena FOMO di media sosial, alasan orang mudah ikut tren viral, serta dampaknya terhadap keuangan dan mental. (Compagnons on Unsplash)

RADARTUBAN - Fenomena FOMO (fear of missing out) makin umum terjadi di era media sosial. Setiap kali ada tren baru, orang merasa harus ikut agar tidak ketinggalan.

Dari makanan viral, gaya hidup, sampai tantangan online, semua seolah wajib dicoba demi terlihat “update.”

Kenapa orang mudah ikut tren viral? Karena ada dorongan psikologis untuk diterima oleh lingkungan.

Ketika teman-teman ramai membicarakan sesuatu, muncul rasa takut dianggap tidak gaul jika tidak ikut. 

Media sosial memperkuat dorongan ini dengan menampilkan konten yang terus-menerus mengulang tren.

Baca Juga: Ketika Negara Dikelola Hanya Berdasar Preferensi dan FOMO: Kolot, Memaksa, dan Anti Kritik

Media sosial juga menciptakan tekanan untuk selalu mengikuti. Algoritma menampilkan apa yang sedang ramai, sehingga orang merasa tren itu lebih besar dari kenyataan.

Akhirnya, muncul ilusi bahwa semua orang melakukannya, padahal sebenarnya hanya sebagian kecil.

Dampak FOMO terhadap keuangan cukup jelas. Banyak orang rela mengeluarkan uang untuk membeli barang atau mencoba pengalaman yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.

Mulai dari makanan viral yang harganya mahal, hingga gadget terbaru yang belum tentu sesuai kebutuhan.

Selain keuangan, dampak mental juga besar. FOMO membuat orang merasa cemas, tidak puas, dan selalu tertinggal.

Ada rasa gelisah ketika melihat orang lain bersenang-senang, padahal kebahagiaan itu tidak selalu sesuai dengan kenyataan.

Viral tidak selalu bermanfaat. Tidak semua tren membawa nilai positif. Ada tren yang sekadar hiburan sesaat, ada pula yang justru merugikan, baik secara finansial maupun kesehatan.

Menyadari hal ini membantu kita lebih bijak dalam memilih tren mana yang layak diikuti dan mana yang sebaiknya diabaikan.

Fenomena ini mengingatkan bahwa tidak semua yang viral itu baik. Kadang, yang terlihat ramai hanya ilusi media sosial. Yang penting bukan ikut semua tren, tetapi menjaga keseimbangan antara kebutuhan nyata dan kesenangan sesaat.

Baca Juga: Euforia Konser di Kalangan Gen Z: Antara Self Reward untuk Kesehatan Mental dan Tekanan FOMO

Menghindari FOMO berarti berani berkata “tidak” pada tren yang tidak relevan. Dengan begitu, kita bisa hidup lebih tenang, tidak terbebani oleh tekanan sosial, dan lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar bermanfaat.

Selain itu, penting juga untuk membangun kesadaran diri. Menyadari bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh tren, melainkan oleh hal-hal sederhana yang sesuai dengan kebutuhan pribadi.

Dengan kesadaran ini, kita bisa lebih tahan terhadap godaan viral.

Pada akhirnya, FOMO adalah cermin dari budaya digital yang serba cepat. Jika kita bisa mengendalikan diri, memilih tren dengan bijak, dan tidak mudah terbawa arus, maka media sosial bisa menjadi ruang yang sehat, bukan sekadar arena perlombaan gengsi. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#fomo #tren #media sosial #online