RADARTUBAN - Kemudahan belanja di era digital membuat aktivitas membeli barang semakin praktis. Hanya dengan beberapa klik, barang bisa langsung sampai ke rumah. Namun, kemudahan ini juga membuka peluang munculnya kebiasaan konsumtif.
Kenapa diskon dan promo sangat menggoda? Karena psikologi konsumen sering kali terjebak pada kata “hemat” atau “murah.” Padahal, membeli barang yang tidak dibutuhkan tetap saja menguras dompet, meski harganya lebih rendah.
Kebiasaan checkout tanpa perencanaan menjadi masalah yang sering terjadi. Banyak orang membeli barang hanya karena terlihat menarik, bukan karena benar-benar dibutuhkan. Akibatnya, keranjang belanja penuh dengan barang impulsif.
Baca Juga: Belanja Lebih Hemat, BRI Hadirkan Promo Diskon Rp 100 Ribu di Tokopedia!
Pengaruh media sosial dan live shopping semakin memperkuat kebiasaan ini. Konten promosi yang interaktif membuat orang merasa harus segera membeli agar tidak ketinggalan. Fenomena ini menambah dorongan konsumtif yang sulit dikendalikan.
Dampak konsumtif terhadap keuangan pribadi jelas terasa. Tagihan kartu kredit membengkak, tabungan menipis, dan rencana keuangan jangka panjang terganggu. Belanja yang awalnya praktis berubah menjadi beban finansial.
Cara mengontrol keinginan berbelanja bisa dimulai dengan membuat daftar kebutuhan, menetapkan anggaran, dan menunda pembelian impulsif. Dengan langkah sederhana ini, kebiasaan konsumtif bisa dikurangi.
Belanja sesuai kebutuhan, bukan sekadar keinginan, adalah prinsip penting. Dengan kesadaran ini, belanja online tetap bisa dinikmati tanpa harus merugikan diri sendiri.
Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi memberi kemudahan sekaligus tantangan. Belanja online bisa menjadi solusi praktis, tetapi juga bisa menjadi jebakan konsumtif jika tidak dikendalikan.
Lebih jauh lagi, disiplin dalam berbelanja adalah bentuk kontrol diri. Dengan sikap bijak, belanja online bisa tetap menjadi alat yang membantu, bukan masalah yang menguras energi dan keuangan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni