Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Fenomena Takut Mengecewakan Orang Lain yang Masih Dianggap Wajar

M. Afiqul Adib • Sabtu, 6 Juni 2026 | 20:01 WIB
kecenderungan people pleasing, serta pentingnya menetapkan batas agar hubungan tetap sehat tanpa mengorbankan diri sendiri. (Marija Zaric on Unsplash)
kecenderungan people pleasing, serta pentingnya menetapkan batas agar hubungan tetap sehat tanpa mengorbankan diri sendiri. (Marija Zaric on Unsplash)
RADARTUBAN - Keinginan untuk selalu menyenangkan orang lain sering dianggap sebagai sikap baik. 
Banyak orang merasa harus selalu memenuhi harapan orang di sekitarnya, seolah-olah itu adalah tanda kepedulian. Namun, di balik sikap ini, ada beban yang tidak selalu terlihat.

Kenapa banyak orang sulit menolak permintaan? Salah satunya karena rasa takut mengecewakan.

Menolak dianggap sama dengan tidak peduli, padahal sebenarnya setiap orang punya keterbatasan. Akibatnya, banyak yang memilih mengiyakan meski dalam hati merasa keberatan.

Takut dianggap egois atau tidak peduli menjadi alasan lain. Budaya yang menekankan kebersamaan sering membuat orang merasa bersalah jika menolak. Padahal, menolak bukan berarti egois, melainkan bentuk menjaga diri agar tidak kewalahan.

Dampak people pleasing terhadap kesehatan mental cukup besar. Terlalu sering mengabaikan kebutuhan diri sendiri bisa menimbulkan stres, kelelahan, bahkan rasa kehilangan jati diri. Hidup terasa seperti dijalani untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri.

Ketika kebutuhan diri sendiri terabaikan, muncul perasaan kosong. Orang bisa merasa tidak pernah benar-benar puas, karena energi habis untuk memenuhi ekspektasi luar. Lama-lama, hal ini bisa mengikis rasa percaya diri.

Baca Juga: Rekomendasi Hobi Seru untuk Mengisi Waktu Libur Lebaran, Murah tapi Menyenangkan

Belajar menetapkan batas yang sehat adalah langkah penting. Batas bukan berarti membatasi hubungan, melainkan menjaga keseimbangan agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Dengan batas yang jelas, hubungan justru bisa lebih jujur dan sehat.

Menjaga hubungan tanpa mengorbankan diri sendiri adalah kunci. Hubungan yang baik seharusnya memberi ruang bagi kedua belah pihak untuk tumbuh, bukan hanya satu pihak yang terus berkorban.

Fenomena takut mengecewakan orang lain menunjukkan bahwa banyak orang masih menganggap people pleasing sebagai hal wajar. Padahal, jika tidak dikendalikan, ia bisa menjadi beban yang merusak kesehatan mental.

Lebih jauh lagi, keberanian untuk berkata “tidak” adalah bentuk kepedulian pada diri sendiri. Dengan begitu, kita bisa tetap hadir bagi orang lain tanpa kehilangan keseimbangan hidup.

Kesadaran ini membantu kita memahami bahwa menyenangkan orang lain tidak harus selalu berarti mengorbankan diri. Ada cara untuk tetap peduli sekaligus menjaga kewarasan.

Dengan belajar menetapkan batas, kita bisa membangun hubungan yang lebih sehat. Orang lain tetap merasa dihargai, sementara diri sendiri tidak kehilangan ruang untuk beristirahat dan berkembang.

Pada akhirnya, menjaga diri sama pentingnya dengan menjaga orang lain. Dengan keseimbangan itu, hubungan bisa lebih tulus, dan hidup terasa lebih ringan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#menyenangkan orang lain #mengecewakan #Permintaan