Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Di Tengah Era Digital, Buku Fisik Justru Kembali Diminati Anak Muda. Ini Alasannya

M. Afiqul Adib • Minggu, 7 Juni 2026 | 19:40 WIB
Tren meningkatnya minat baca buku fisik di kalangan anak muda. (Studio Media on Unsplash)
Tren meningkatnya minat baca buku fisik di kalangan anak muda. (Studio Media on Unsplash)

RADARTUBAN - Benarkah minat baca anak muda sedang meningkat? Meski sering dianggap lebih dekat dengan gawai, banyak anak muda kini justru kembali melirik buku fisik. Fenomena ini terlihat dari ramainya toko buku, bazar literasi, hingga komunitas membaca yang tumbuh di media sosial.

Dari layar ke kertas, anak muda mencari pengalaman membaca yang berbeda. Membaca buku fisik memberi sensasi yang tidak bisa digantikan oleh e-book: aroma kertas, tekstur halaman, dan kepuasan membalik lembar demi lembar. Semua itu menghadirkan pengalaman yang lebih intim.

Buku fisik juga membantu kemampuan fokus yang lebih baik. Tanpa notifikasi yang mengganggu, pembaca bisa tenggelam dalam cerita atau pengetahuan tanpa distraksi. Hal ini menjadi nilai tambah di tengah budaya digital yang serba cepat.

Baca Juga: Buku Fisik Masih Menarik

Tren Booktok dan komunitas membaca di media sosial turut mendorong minat ini. Banyak anak muda terinspirasi dari rekomendasi buku yang viral, lalu berburu versi fisiknya untuk ikut merasakan hype sekaligus menjadi bagian dari komunitas.

FOMO juga berperan besar. Ketika sebuah buku ramai dibicarakan, banyak orang merasa perlu ikut membaca agar tidak ketinggalan obrolan. Buku fisik menjadi simbol keterlibatan dalam tren literasi yang sedang naik daun.

Sensasi mengoleksi buku yang tidak digantikan e-book menjadi alasan lain. Rak penuh buku fisik memberi kebanggaan tersendiri, seolah menjadi jejak perjalanan intelektual dan emosional seseorang. Koleksi buku bisa menjadi identitas yang ditampilkan di ruang pribadi.

Membaca sebagai bentuk digital detox semakin relevan. Di tengah banjir informasi dan notifikasi, buku fisik menawarkan ruang tenang. Membaca tanpa layar memberi kesempatan bagi pikiran untuk beristirahat dari dunia digital yang melelahkan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa buku fisik bukan sekadar benda lama yang tersisih oleh teknologi. Ia justru menemukan kembali relevansinya sebagai simbol fokus, ketenangan, dan pengalaman yang lebih mendalam.

Lebih jauh lagi, tren ini membuktikan bahwa anak muda tidak hanya mencari hiburan instan. Mereka juga membutuhkan ruang refleksi, dan buku fisik menjadi medium yang tepat untuk itu.

Kesadaran ini membuat buku fisik kembali diminati, bukan karena nostalgia semata, tetapi karena ia menawarkan sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh layar: keintiman, fokus, dan ketenangan.

Dengan begitu, buku fisik tetap hidup di tengah era digital. Ia bukan sekadar alternatif, melainkan pilihan yang memberi pengalaman berbeda dan lebih bermakna.

Mungkin inilah alasan mengapa rak buku kembali terisi, toko buku kembali ramai, dan anak muda kembali menemukan kebahagiaan sederhana dalam membalik halaman. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#anak muda #digital #buku fisik