RADARTUBAN - Di tengah ketidakpastian ekonomi dan tekanan hidup yang semakin tinggi, muncul fenomena yang semakin banyak dialami generasi muda, yakni Doom Spending.
Istilah ini merujuk pada kebiasaan menghabiskan uang secara berlebihan sebagai respons terhadap stres, kecemasan, atau pesimisme terhadap masa depan. Banyak orang membeli barang atau layanan bukan karena kebutuhan, melainkan untuk mendapatkan kepuasan sesaat.
Fenomena tersebut kini menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu kesehatan finansial dalam jangka panjang.
Baca Juga: Belanja Online yang Awalnya Praktis, Lama-Lama Jadi Kebiasaan Konsumtif
Apa Itu Doom Spending?
Doom spending adalah perilaku konsumtif yang dipicu oleh perasaan cemas terhadap kondisi ekonomi, pekerjaan, atau masa depan.
Alih-alih menabung atau mengelola keuangan dengan lebih hati-hati, seseorang justru memilih membelanjakan uangnya untuk mendapatkan rasa nyaman atau hiburan sesaat.
Meski memberikan kepuasan sementara, kebiasaan ini dapat menimbulkan masalah keuangan jika dilakukan terus-menerus.
Dipengaruhi Tekanan dan Ketidakpastian
Berbagai faktor dapat mendorong seseorang melakukan doom spending.
Mulai dari kenaikan biaya hidup, kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi, tekanan pekerjaan, hingga paparan media sosial yang menampilkan gaya hidup konsumtif.
Kondisi tersebut membuat sebagian orang merasa sulit melihat masa depan secara optimistis sehingga lebih memilih menikmati uang yang dimiliki saat ini.
Dampak terhadap Keuangan
Jika tidak dikendalikan, doom spending dapat menghambat kemampuan seseorang dalam membangun kondisi finansial yang sehat.
Kebiasaan ini bisa mengurangi tabungan, memperbesar penggunaan kartu kredit, hingga meningkatkan risiko terjerat utang. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut justru dapat memperburuk kecemasan yang menjadi pemicu awal perilaku tersebut.
Cara Menghindari Doom Spending
Salah satu langkah penting untuk menghindari doom spending adalah menyusun anggaran keuangan yang jelas.
Selain itu, penting untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan sebelum melakukan pembelian.
Membatasi penggunaan media sosial, meningkatkan literasi keuangan, serta memiliki tujuan keuangan jangka panjang juga dapat membantu mengurangi dorongan belanja impulsif.
Perlu Kesadaran Finansial
Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi generasi muda saat ini, kesadaran dalam mengelola keuangan menjadi semakin penting.
Memahami risiko doom spending dapat membantu masyarakat mengambil keputusan finansial yang lebih bijak dan menjaga stabilitas ekonomi pribadi di masa depan.
Dengan pengelolaan keuangan yang baik, generasi muda dapat menghadapi ketidakpastian tanpa harus terjebak dalam kebiasaan konsumtif yang merugikan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni