Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mengapa Melepaskan Seseorang Sering Kali Lebih Sulit daripada Mendapatkannya?

M. Afiqul Adib • Senin, 29 Juni 2026 | 18:31 WIB
Merefleksikan perjalanan emosional ketika harus melepaskan seseorang. (Illustration by Ands Mahardika/Unsplash)
Merefleksikan perjalanan emosional ketika harus melepaskan seseorang. (Illustration by Ands Mahardika/Unsplash)

RADARTUBAN - Melepaskan seseorang sering kali terasa jauh lebih sulit daripada saat pertama kali mendapatkannya. Ketika kita jatuh cinta, segalanya tampak indah dan penuh harapan.

Ada rasa berbunga yang membuat dunia seakan lebih berwarna. Namun, ketika hubungan harus berakhir, rasa kehilangan itu justru menimbulkan luka yang dalam. Mengapa bisa begitu?

Pertama, karena adanya ikatan emosional. Hubungan bukan hanya tentang kebersamaan fisik, tetapi juga tentang hati yang saling terhubung.

Baca Juga: Brain Rot karena Konten Receh? Ini Penjelasan Psikologis di Balik Kebiasaan Ketawa di Media Sosial

Saat kita terbiasa dengan kehadiran seseorang, melepaskannya berarti kehilangan bagian dari rutinitas, kebiasaan, bahkan identitas diri. Ikatan ini membuat proses berpisah terasa seperti merobek sesuatu yang sudah menyatu.

Kedua, ada harapan yang belum selesai. Kita sering membangun mimpi bersama: rencana masa depan, perjalanan yang ingin dilakukan, atau sekadar kebiasaan kecil yang ingin terus dijalani.

Ketika hubungan berakhir, semua harapan itu seakan terhenti di tengah jalan. Kehilangan bukan hanya tentang orangnya, tetapi juga tentang masa depan yang pernah kita bayangkan.

Ketiga, sulit menerima kenyataan. Pikiran kita sering menolak untuk percaya bahwa hubungan benar-benar berakhir. Ada rasa ingin mengulang, memperbaiki, atau berharap suatu hari dia kembali. Padahal, kenyataan tidak selalu sesuai dengan keinginan. Proses menerima inilah yang membuat hati terasa berat.

Keempat, ada proses kehilangan yang harus dijalani. Kehilangan bukan hanya soal fisik, tetapi juga emosional. Kita kehilangan teman bicara, tempat berbagi cerita, dan sosok yang dulu menjadi bagian penting dalam hidup. Proses ini mirip dengan berduka, membutuhkan waktu untuk benar-benar pulih.

Namun, di balik semua rasa sakit itu, ada kesempatan untuk belajar menerima. Menerima bukan berarti melupakan, melainkan mengakui bahwa hubungan sudah selesai dan kita perlu melanjutkan hidup.

Dengan menerima, hati perlahan menjadi lebih tenang, dan luka mulai sembuh.

Setelah itu, penting untuk fokus membangun diri. Kehilangan bisa menjadi ruang untuk menemukan kembali siapa diri kita.

Kita bisa mengejar mimpi yang sempat tertunda, memperkuat hubungan dengan keluarga dan sahabat, atau mencoba hal-hal baru yang memberi makna.

Pada akhirnya, kita harus ingat bahwa hidup tetap berjalan. Melepaskan memang sulit, tetapi ia membuka pintu untuk pengalaman baru. Setiap akhir selalu membawa awal yang lain.

Dengan keberanian untuk melangkah, kita bisa menemukan kebahagiaan yang lebih tulus, bahkan mungkin cinta yang lebih sehat.

Baca Juga: Riset Psikologi: Pentingnya Menjadwalkan Liburan Rutin Dua Bulan Sekali demi Kewarasan Mental Pekerja

Melepaskan seseorang terasa lebih sulit daripada mendapatkannya karena ikatan emosional, harapan yang belum selesai, dan kenyataan yang berat untuk diterima.

Namun, dengan belajar menerima, fokus membangun diri, dan menyadari bahwa hidup terus berjalan, kita bisa menemukan kekuatan baru. Melepaskan bukan berarti kalah, melainkan tanda bahwa kita berani memilih kebahagiaan yang lebih baik. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#cinta #psikologi #Emosional