Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Aplikasi Strava Kena Pajak Digital, Penghobi Olahraga di Tuban Terbelah antara Premium dan Gratisan

M. Mahfudz Muntaha • Senin, 6 Juli 2026 | 15:17 WIB
Reza Abrillian Firdaus (paling kiri) bersama para anggota komunitas running ketika mengikuti sebuah event lari.  (Reza Abrillian Firdaus for Radar Tuban)
Reza Abrillian Firdaus, anggota komunitas running ketika mengikuti sebuah event lari.  (Reza Abrillian Firdaus for Radar Tuban)

RADARTUBAN — Penerapan pajak pertambahan nilai (PPN) pada layanan digital, termasuk salah satu aplikasi kebugaran premium, tidak mengubah kebiasaan sebagian pegiat olahraga di Tuban.

Bagi mereka yang mengandalkan aplikasi tersebut untuk menunjang aktivitas berlari, tambahan biaya langganan dinilai masih sepadan dengan manfaat yang diperoleh.

Kebijakan pemungutan PPN atas layanan digital membuat biaya berlangganan aplikasi ini mengalami penyesuaian. Kendati demikian, pengguna yang membutuhkan berbagai fitur analisis latihan tetap memilih mempertahankan layanan berbayar tersebut.

Salah satunya Reza Abrillian Firdaus, penghobi lari asal Tuban. Dia mengaku mengetahui tambahan PPN saat memperpanjang langganan salah stu aplikasi premium pada akhir Juni lalu.

Baca Juga: Lari di Atas Sejarah, Tantangan Ekstrem Great Wall of China Marathon

Jika sebelumnya biaya berlangganan tahunan sebesar Rp 349.900, kini yang harus dibayarkan mencapai Rp 388.389 setelah dikenai tambahan pajak.

"Tahu ada kenaikan, tetap saja bayar," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Menurut Reza, keputusan tetap berlangganan didasarkan pada kebutuhan. Berbagai fitur yang tersedia pada layanan premium tersebut dinilai mampu mendukung aktivitas olahraga sekaligus memantau perkembangan kebugaran secara lebih lengkap. "Dengan berlangganan bisa menampilkan data detak jantung dan lainnya," katanya.

Guru pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK) di salah satu SMP di Tuban itu menambahkan, aplikasi tersebut juga menunjang pekerjaannya.

Karena itu, tambahan biaya akibat penerapan PPN tidak menjadi alasan untuk menghentikan kebiasaan berlari. "Tetap semangat running walau sudah terkena pajak," ucapnya.

Pilihan berbeda diambil Zainal Abidin. Penggemar olahraga bersepeda itu memilih tetap menggunakan aplikasi kebugaran gratis agar tidak perlu mengeluarkan biaya langganan yang kini turut dikenai PPN.

Baginya, fitur dasar yang tersedia sudah cukup untuk mencatat jarak tempuh selama bersepeda. Dia tidak merasa perlu mengakses fitur-fitur tambahan yang hanya tersedia pada layanan premium. "Saya juga tidak mau kalau harus bayar lebih," ujarnya sambil berkelakar.

Meski fiturnya lebih terbatas, Zainal mengaku tetap bisa mendokumentasikan aktivitas bersepedanya dengan cara lain.

Dia kerap memadukan hasil pencatatan jarak tempuh dengan foto-foto yang kemudian diolah agar lebih menarik saat diunggah ke media sosial. "Kalau diedit sedikit-sedikit bisa estetik juga," katanya.(fud/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #pelari #pajak #strava