RADARTUBAN - Bahagia adalah perasaan yang diidamkan banyak orang. Namun, tidak semua orang menyambut kebahagiaan dengan tangan terbuka. Ada sebagian yang justru merasa takut ketika kebahagiaan datang. Fenomena ini dikenal sebagai cherophobia.
Cherophobia bukan sekadar enggan tersenyum atau menolak bersenang-senang. Ia adalah kondisi psikologis ketika seseorang merasa cemas atau khawatir bahwa kebahagiaan akan membawa konsekuensi buruk.
Misalnya, berpikir bahwa terlalu bahagia akan diikuti oleh kesedihan besar, atau bahwa kebahagiaan membuat seseorang lengah terhadap masalah.
Mengapa seseorang bisa takut merasakan kebahagiaan? Salah satu penyebabnya adalah pengalaman buruk yang memengaruhi cara berpikir.
Jika seseorang pernah mengalami kehilangan atau trauma setelah momen bahagia, ia bisa mengaitkan kebahagiaan dengan rasa sakit. Akibatnya, muncul keyakinan bahwa lebih aman untuk tidak terlalu bahagia.
Selain itu, kelelahan emosional juga bisa membuat seseorang menutup diri dari kebahagiaan. Mereka merasa tidak pantas bahagia, atau khawatir kebahagiaan hanya sementara.
Ada beberapa tanda-tanda cherophobia yang bisa dikenali:
- Menghindari aktivitas menyenangkan karena takut konsekuensinya.
- Merasa cemas ketika berada dalam suasana bahagia.
- Lebih memilih hidup datar tanpa euforia.
- Menganggap kebahagiaan sebagai sesuatu yang berbahaya.
Penting untuk memahami bahwa cherophobia berbeda dengan depresi. Depresi adalah kondisi klinis dengan gejala seperti kesedihan mendalam, kehilangan minat, dan gangguan fungsi sehari-hari.
Cherophobia lebih spesifik: rasa takut terhadap kebahagiaan itu sendiri. Seseorang dengan cherophobia bisa tetap berfungsi normal, tetapi menolak kebahagiaan karena dianggap berisiko.
Bagaimana cara menyikapi rasa takut terhadap kebahagiaan? Pertama, dengan menerima perasaan. Tidak perlu memaksa diri untuk selalu bahagia, tetapi juga tidak perlu menolak kebahagiaan yang datang.
Menyadari bahwa kebahagiaan adalah bagian alami dari hidup bisa membantu mengurangi rasa takut.
Kedua, dengan perlahan memberi ruang bagi diri sendiri untuk menikmati hal-hal kecil. Misalnya, secangkir teh hangat, berjalan di taman, atau berbincang dengan teman. Aktivitas sederhana bisa menjadi langkah awal untuk berdamai dengan kebahagiaan.
Namun, jika rasa takut terhadap kebahagiaan berlangsung lama dan mengganggu kualitas hidup, maka mencari bantuan profesional adalah langkah bijak. Psikolog atau konselor bisa membantu memahami akar masalah dan memberikan strategi untuk mengatasinya.
Baca Juga: Bursa Transfer Serie A : Luka Modric Bahagia di AC Milan, Rossoneri Segera Sodorkan Kontrak Baru
Sekali lagi, Cherophobia adalah kondisi ketika seseorang takut bahagia karena mengaitkannya dengan risiko atau pengalaman buruk. Ia berbeda dengan depresi, tetapi tetap bisa memengaruhi kualitas hidup.
Dengan menerima perasaan, memberi ruang untuk hal-hal kecil, dan bila perlu mencari bantuan profesional, seseorang bisa belajar bahwa kebahagiaan bukan ancaman, melainkan bagian penting dari perjalanan hidup. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni