6 Kebiasaan Sehari-hari Orang yang Sulit Dipercaya Berdasarkan Psikologi, Kenali Tanda-tandanya

Cicik Nur Latifah • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 18:55 WIB
Kebiasaan harian orang yang sulit dipercaya menurut psikologi. (Magnific/ 8photo)
Kebiasaan harian orang yang sulit dipercaya menurut psikologi. (Magnific/ 8photo)

RADARTUBAN – Membangun kepercayaan dalam sebuah relasi memerlukan waktu dan ketekunan. Dalam perspektif psikologi, seseorang tidak selalu memperlihatkan maksud sebenarnya lewat perkataan atau perilaku yang tampak.

Pujian yang berlebihan, narasi yang terdengar meyakinkan, serta sikap yang terlihat peduli terkadang bisa juga menjadi cara seseorang menyembunyikan ketulusan yang rendah. Meski begitu, ada sejumlah kebiasaan sehari-hari yang dapat membantu mengidentifikasi orang-orang yang cenderung sulit dipercaya.

Mengutip dari situs YourTango pada Jumat (17/7), berikut enam kebiasaan yang biasa muncul pada individu yang sulit dipercaya dalam kehidupan sehari-hari:

Baca Juga: Mata Sering Gagal Fokus Saat Belajar? Kebiasaan Ini Bisa Membantu Menjaga Konsentrasi

1. Sering Menceritakan Kisah yang Bertentangan

Hubungan yang sehat didasarkan pada sikap saling menghargai, termasuk menghormati batasan dan mau berkompromi tanpa memanfaatkan rasa bersalah untuk mendapatkan keuntungan.

Namun, jika rincian dalam cerita seseorang mulai tidak konsisten atau tidak sesuai dengan kenyataan, ini bisa menjadi indikasi adanya masalah.

Ketika dihadapkan dengan pertanyaan, mereka sering kali menunjukkan kegugupan, memberikan penjelasan yang kabur, atau mengalihkan pembicaraan agar tidak terfokus pada topik itu. Kebiasaan ini sering dilakukan untuk menarik perhatian atau membentuk citra tertentu di mata orang lain.

2. Enggan Mengungkapkan Informasi Pribadi secara Jelas

Orang yang sulit dipercaya biasanya cenderung mengetahui banyak hal tentang kehidupan orang lain, tetapi enggan untuk membagikan kisah mengenai diri mereka sendiri.

Mereka sering memilih informasi yang diperbolehkan untuk disampaikan kepada orang lain demi menjaga citra yang ingin dipertunjukkan.

Dalam beberapa situasi, mungkin ada orang yang merasa nyaman berbagi rahasia dengan mereka, tetapi informasi tersebut bisa saja menyebar ke teman-teman lain. Ini menandakan bahwa kedekatan yang terjalin tidak selalu dilandasi dengan rasa saling percaya.

3. Suka Mengomentari Kelemahan Orang Lain

Individu yang sering mengomentari kelemahan orang lain sebaiknya dicermati. Pasalnya, orang dengan kebiasaan ini mungkin juga melakukan hal serupa terhadap orang-orang terdekatnya.

Kegiatan bergosip sering kali menyebabkan mereka memberikan penilaian yang tidak objektif tanpa mengetahui fakta sebenarnya.

Mereka cenderung mudah mengalihkan pembicaraan ketika topik mulai membosankan, tetapi tetap senang mendiskusikan kehidupan orang lain. Perilaku ini dapat mencerminkan ketidakamanan diri dengan mengalihkan perhatian kepada orang sekitar.

4. Bersikap Kasar terhadap Orang Tak Dikenal

Perilaku seseorang terhadap orang asing juga bisa mencerminkan karakter aslinya. Orang yang sulit dipercaya kadang-kadang menunjukkan sikap yang kurang menghargai, seperti berlaku kasar kepada pelayan, mudah mengeluh, atau tidak meminta maaf saat melakukan kesalahan.

Sikap ini dapat mencerminkan rendahnya rasa empati dan keinginan untuk menguasai situasi sosial. Tanda buruk terhadap orang yang dianggap tidak penting juga perlu menjadi perhatian serius.

Baca Juga: Malas Bergerak Akhir-Akhir Ini? Kebiasaan Ini Bisa Membantu Menjaga Kesehatan Tubuh

5. Sering Melanggar Janji

Janji adalah salah satu bentuk komitmen utama dalam membangun kepercayaan. Jika seseorang terus-menerus melanggar janji, hubungan yang sudah terjalin lama bisa kehilangan rasa percaya secara perlahan.

Orang yang biasa tidak memenuhi janji cenderung memandang janji itu tidaklah penting. Jika pola ini terus berlanjut tanpa adanya upaya untuk berubah, hubungan yang dijalin bisa menjadi tidak sehat.

6. Memanipulasi Rasa Bersalah demi Kepentingan Pribadi

Orang yang sulit dipercaya sering kali memiliki kemampuan untuk memengaruhi orang lain melalui pernyataan mereka.

Salah satu caranya adalah dengan membuat seseorang merasa bersalah agar mau memenuhi keinginannya. Manipulasi semacam ini dapat menyebabkan orang lain selalu mengabaikan kepentingan pribadinya.

Dalam sebuah hubungan yang baik, setiap individu seharusnya mampu menghormati batasan, mengerti perasaan orang lain, dan berusaha menemukan solusi lewat kompromi, bukannya memengaruhi atau mendorong dengan menggunakan rasa bersalah.

Apabila perilaku ini terus berlanjut, hal tersebut bisa menjadi indikasi bahwa hubungan perlu ditinjau ulang. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
psikologi kebiasaan mental