Kenapa Barang Thrift dan Preloved Semakin Diminati? Ini Alasannya

M. Afiqul Adib • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 18:46 WIB
Barang thrift dan preloved kini semakin populer, terutama di kalangan anak muda. (chrissie kremer on Unsplash)
Barang thrift dan preloved kini semakin populer, terutama di kalangan anak muda. (chrissie kremer on Unsplash)

RADARTUBAN - Fenomena thrift dan preloved semakin marak dalam beberapa tahun terakhir. Toko-toko online maupun offline yang menjual barang bekas berkualitas kini menjadi destinasi favorit, terutama bagi generasi muda. Tetapi apa sebenarnya yang membuat barang thrift dan preloved begitu diminati?

Pertama, faktor ekonomi menjadi alasan utama. Barang thrift biasanya dijual dengan harga jauh lebih murah dibanding barang baru. Hal ini membuat banyak orang bisa mendapatkan pakaian bermerek atau berkualitas tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Di tengah kondisi ekonomi yang menuntut penghematan, thrift menjadi solusi cerdas.

Selain itu, tren fesyen juga berperan besar. Tren fesyen selalu berubah, dan anak muda sering mencari gaya unik yang berbeda dari arus utama.

Baca Juga: Shopee–Tokopedia–TikTok Kompak Sapu Bersih Produk Thrifting Ilegal: Ratusan Ribu Barang Di-takedown

Barang thrift dan preloved menawarkan pilihan yang lebih beragam, bahkan kadang menghadirkan model lama yang justru kembali populer sebagai gaya retro atau vintage.

Kepedulian terhadap lingkungan juga menjadi alasan penting. Kepedulian lingkungan membuat banyak orang sadar bahwa industri fesyen adalah salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia.

Dengan membeli barang bekas, konsumen ikut mengurangi produksi baru dan memperpanjang usia pakai suatu produk. Ini adalah bentuk kontribusi kecil terhadap keberlanjutan.

Selain murah dan ramah lingkungan, barang thrift sering kali memiliki kualitas yang baik. Barang berkualitas dengan harga lebih rendah menjadi daya tarik utama.

Banyak barang preloved yang masih dalam kondisi sangat bagus, bahkan ada yang hampir tidak pernah dipakai. Dengan sedikit usaha memilih, pembeli bisa mendapatkan produk yang bernilai tinggi.

Namun, membeli barang bekas juga memiliki risiko. Risiko membeli barang bekas antara lain kualitas yang tidak sesuai ekspektasi, barang palsu, atau kondisi tersembunyi yang baru terlihat setelah digunakan.

Oleh karena itu, pembeli harus lebih teliti, memeriksa detail produk, dan memilih penjual yang terpercaya.

Fenomena thrift dan preloved menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi. Orang tidak lagi hanya mengejar barang baru, tetapi juga mencari nilai, cerita, dan keberlanjutan. Di balik setiap pakaian atau barang preloved, ada sejarah yang membuatnya lebih bermakna.

Barang thrift dan preloved diminati karena alasan ekonomi, tren fesyen, kepedulian lingkungan, dan kualitas dengan harga lebih murah.

Meski ada risiko, dengan ketelitian, pembeli bisa mendapatkan barang yang bernilai tinggi. Pada akhirnya, thrift bukan sekadar gaya hidup hemat, tetapi juga pilihan sadar untuk lebih ramah lingkungan dan unik dalam berpenampilan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
preloved barang thrift ramah lingkungan