RADARTUBAN – Merajut pakaian sendiri, membuat sourdough starter, berkebun di halaman rumah, hingga berburu pakaian vintage kini bukan lagi identik dengan hobi kalangan lanjut usia.
Aktivitas yang dahulu dianggap kuno justru semakin digemari Generasi Z melalui tren yang dikenal sebagai grandmacore.
Di balik popularitasnya di media sosial, fenomena ini ternyata bukan sekadar mengikuti tren estetika. Banyak pengamat melihat grandmacore sebagai respons generasi muda terhadap tekanan ekonomi, mahalnya biaya hidup, hingga ketidakpastian masa depan.
Dalam analisis yang dipublikasikan kreator konten Ashley Embers, Generasi Z disebut mengalami perubahan pola hidup yang cukup kontras.
Jika sebelumnya diperkirakan akan semakin bergantung pada teknologi dan otomatisasi, kini banyak anak muda justru kembali mempelajari keterampilan rumah tangga yang pernah akrab dengan generasi kakek-nenek mereka.
Baca Juga: Kenapa Barang Thrift dan Preloved Semakin Diminati? Ini Alasannya
Dari Hiburan Malam Beralih ke Aktivitas di Rumah
Perubahan itu terlihat dari semakin banyaknya anak muda yang menghabiskan waktu luang di rumah dibanding menikmati kehidupan malam.
Merajut, memasak dari bahan mentah, berkebun, membuat roti sendiri, hingga berburu barang bekas berkualitas (thrifting) menjadi aktivitas yang semakin diminati.
Selain memberikan kepuasan pribadi, hobi tersebut juga dinilai membantu menghemat pengeluaran.
Bagi sebagian Gen Z, kemampuan menghasilkan makanan atau membuat barang sendiri menjadi cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk komersial yang harganya terus meningkat.
Krisis Ekonomi Mengubah Cara Pandang
Fenomena grandmacore berkembang di tengah berbagai tekanan global, mulai dari inflasi, kenaikan biaya hidup, konflik geopolitik, hingga pasar kerja yang dinilai semakin tidak menentu.
Situasi tersebut mendorong banyak generasi muda mencari cara agar lebih mandiri secara finansial maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Membuat pakaian sendiri, menanam sayuran, atau memperbaiki barang lama dipandang bukan lagi sekadar hobi, melainkan strategi untuk mengendalikan pengeluaran sekaligus meningkatkan rasa aman di tengah kondisi ekonomi yang sulit diprediksi.
Kekecewaan terhadap Kualitas Produk Modern
Selain faktor ekonomi, muncul pula kekecewaan terhadap kualitas produk yang dianggap terus menurun.
Fenomena yang dikenal sebagai enshitification atau skimpflation menggambarkan kondisi ketika kualitas barang menurun sementara harganya justru meningkat.
Banyak konsumen muda mulai meninggalkan produk fast fashion berbahan sintetis karena dinilai tidak tahan lama.
Sebagai alternatif, mereka memilih pakaian hasil rajutan tangan, produk berbahan serat alami, atau furnitur vintage berbahan kayu yang dianggap memiliki kualitas lebih baik.
Pilihan tersebut juga dinilai lebih ramah lingkungan karena memperpanjang usia pakai barang dan mengurangi budaya konsumsi sekali pakai.
Nostalgia Menjadi Pelarian dari Tekanan Modern
Di luar pertimbangan ekonomi, grandmacore juga menawarkan ketenangan psikologis.
Generasi yang tumbuh di tengah pandemi, perkembangan teknologi yang sangat cepat, dan banjir informasi digital mencari rutinitas yang lebih lambat serta aktivitas yang memberikan kepuasan nyata.
Merawat tanaman, menjahit, atau membuat roti menghadirkan pengalaman yang lebih sederhana sekaligus membantu mengurangi stres akibat tekanan kehidupan modern.
Fenomena ini menunjukkan bahwa grandmacore bukan hanya soal menghidupkan kembali gaya hidup masa lalu.
Bagi banyak anggota Generasi Z, tren tersebut menjadi simbol kemandirian, upaya menghemat pengeluaran, sekaligus cara menjaga kesehatan mental di tengah ketidakpastian ekonomi dan perubahan dunia yang berlangsung sangat cepat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni