Brainrot Bukan Sekadar Istilah Viral, Penelitian Ungkap Scrolling TikTok Bisa Ganggu Fokus

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 17:59 WIB
Ilustrasi video tung tung sahur. (tangkapan layar youtube)
Ilustrasi video tung tung sahur. (tangkapan layar youtube)

RADARTUBAN- Pernahkah anda berpikir semakin lama anda semakin sulit untuk fokus? Mungkin ini ada kaitannya dengan fenomena brainrot yang sebenarnya bukan sekadar meme buatan AI seperti Tung Tung Tung Sahur, atau Bombardilo Crocodilo. 

Brainrot yang secara literal diterjemahkan sebagai otak yang membusuk sebenarnya adalah suatu istilah yang pakai karena generasi jaman sekarang  terlihat semakin bodoh karena terus-terusan dijejali oleh konten-konten penuh overstimulasi berkualitas rendah. 

Penelitian Universitas Peking di Beijing menilai bahwa mahasiswa yang menghabiskan waktu 30 menit melakukan scrolling di TikTok mendapat skor jauh lebih buruk dibandingkan dengan kelompok yang membaca, namun menariknya apabila jenis video digabungkan menjadi satu tanpa adanya fitur mengusap layar (swiping), penurunan fungsi otak tersebut tidak terjadi.

Baca Juga: Fenomena Brainrot Jadi Ancaman Baru bagi Kesehatan Mental Anak di Era Digital, Ini Kata Dosen IPB

Ini terjadi karena adanya sistem ‘feed’ atau ‘For You Page’ yang membatasi akses bebas pengguna. Ibaratkan seperti restoran tanpa menu dimana anda hanya tinggal menerima suapan yang diberikan oleh sosial media.

Sebuah eksperimen laboratorium di Munich, Jerman, menguji kemampuan memori ini pada 60 partisipan. Mereka diberikan tes awal, lalu diminta beristirahat selama 10 menit dengan aktivitas yang berbeda-beda.

Ada yang beristirahat tenang tanpa telepon, bermain Twitter, menonton video YouTube biasa, dan melakukan scrolling di TikTok.

Hasil menunjukkan temuan yang kontras, yaitu kelompok yang mengkonsumsi video pendek di TikTok mengalami penurunan performa yang sangat drastis dalam mengingat instruksi yang telah direncanakan.

Fokus mereka cenderung pecah sesaat setelah layar dimatikan. Sementara kelompok Twitter dan YouTube biasa performa kognitif mereka tetap stabil dan tidak menemukan adanya penurunan performa.

Meskipun riset membuktikan adanya dampak jangka pendek, klaim populer bahwa perhatian manusia kini lebih pendek dari ikan mas ternyata hanyalah data palsu dari laporan komersial lama yang tidak punya basis ilmiah.

Peneliti yang menelusuri sumber data tersebut menemukan bahwa angka-angka perbandingan itu sepenuhnya buatan dan tidak memiliki basis ilmiah. Penurunan fokus di dunia nyata lebih dipicu oleh banyaknya kompetisi gangguan di sekitar kita, seperti notifikasi ponsel.

Para peneliti menyarankan untuk memulihkan lagi ketajaman kognitif kita dengan cara memberikan batasan, atau hanya membuka sosial media saat istirahat.  (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
AI meme brainrot tung tung tung sahur