Mengapa Generasi Muda Dinilai Makin Apatis? Analisis Ungkap Peran Media Sosial dan Teknologi

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 20:28 WIB
Kemudahan akses hiburan disebut mengubah cara masyarakat merespons persoalan sosial dan politik. (tangkapan layar media sosial)
Kemudahan akses hiburan disebut mengubah cara masyarakat merespons persoalan sosial dan politik. (tangkapan layar media sosial)

RADARTUBAN – Kemampuan generasi muda jaman sekarang kini dipertanyakan dalam menciptakan perubahan. Tekanan ekonomi dan sosial yang tinggi yang seharusnya melahirkan gerakan revolusioner, justru berujung pada sikap apatis dan putus asa.

Kurangnya semangat dalam perubahan ini disinyalir karena strategi penggembosan massal lewat pemanfaatan teknologi dan sosial media.

Analisis dalam fenomena ini mengungkap bahwa masyarakat modern sengaja dijinakan dengan kenyamanan dan kesenangan instan.

Mengadaptasi dari konsep kuno Romawi ”bread and circuses” (roti dan sirkus) yang artinya adalah strategi mengalihkan perhatian masyarakat dari masalah yang lebih penting dengan memberikan kebutuhan dasar dan hiburan.

Keberadaan smartphone juga ikut memfasilitasi akses terhadap hiburan dengan sangat mudah dan cepat. Hanya perlu dua detik untuk membuka aplikasi Instagram, atau dengan mengklik beberapa tombol saja maka makanan akan segera diantar di depan dimana saja.

Baca Juga: Mei Dista Dwi Anjani, Penari Muda Asal Montong Tuban Bentengi Gen Z Lewat Tari Tradisional

Media digital tidak hanya mengalihkan perhatian, namun juga mengubah cara manusia dalam merespon masalah-masalah di dunia nyata. Akibat otak yang terus-menerus dijejali informasi dari algoritma, manusia kehilangan ruang tenang untuk merenung dan memproses masalah pribadi. 

Ruang sunyi tersebut krusial dalam menghasilkan kemarahan sehat yang mendorong aksi nyata. Namun, nyatanya aksi-aksi nyata tersebut sering digembosi menjadi sekedar konten humor, meme, atau dicap sebagai pencitraan.

Adanya ilusi tidak peduli politik adalah hal yang keren justru menguntungkan penguasa, hasilnya biaya hidup, hingga tingginya harga pangan seringkali tidak tersampaikan secara politik.

Untuk keluar dari kondisi ini, terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan. Contohnya adalah fokus pada perubahan mandiri yang nyata, saling mengingatkan sesama warga karena demonstrasi yang bersifat simbolis tidak akan bertahan lama tidak akan bertahan lama tanpa adanya sokongan dari dunia nyata.

Gerakan skala global yang berhasil selalu berakar pada solidnya organisasi lokal.

Aktif dalam pergerakan sosial di era dengan ekonomi mencekik seperti ini merupakan hal yang penting, namun kegiatan yang dimulai dari diri sendiri juga tak kalah pentingnya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
apatis teknologi tekanan ekonomi generasi muda