RADARTUBAN – Generasi stroberi, generasi manja, generasi depresi dan masih banyak lagi julukan yang diberikan pada Gen Z yang dirasa banyak mengeluh, dan terlalu lembek untuk dunia kerja.
Dalam survei sendiri memang terdapat peningkatan jumlah masalah mental yang diderita oleh generasi baru.
Di Amerika Serikat misalnya, survei menunjukkan bahwa hampir 40 persen siswa sekolah menengah mengaku merasa sedih dan putus asa hampir setiap hari selama dua minggu berturut-turut.
Tak hanya ini terdapat lonjakan dari catatan dimana rumah sakit menerima remaja perempuan akibat menyakiti diri sendiri (self-harm).
Hingga angka bunuh diri juga mencetak rekor baru pada usia 10 sampai 14 tahun. Tren yang sama juga banyak ditemukan di negara-negara individualis seperti Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru.
Baca Juga: Mei Dista Dwi Anjani, Penari Muda Asal Montong Tuban Bentengi Gen Z Lewat Tari Tradisional
Sebenarnya mengapa Gen Z sangat rentan jatuh dalam depresi dan masalah mental lainnya? Dalam kanal YouTube HowTown membedah dua sudut pandang besar dari para ahli psikologi mengenai fenomena ini:
Kerentanan Otak Remaja
Secara biologis otak remaja mengalami penataan besar-besaran krusial yang akan mempengaruhi cara berpikir di masa depan. Periode remaja umur 12 sampai 15 tahun adalah waktu paling sensitif dimana anak-anak haus akan validasi, sangat reaktif terhadap teman-teman sebayanya.
Menggabungkan otak remaja yang sensitif dengan sosial media merupakan langkah yang fatal. Dengan dinamika arus informasi tanpa henti yang diterima oleh otak remaja tentu saja hal ini mendatangkan kecemasan konstan karena perkara seperti pesan yang hanya dibaca, likes yang jumlahnya tak sebesar orang lain, atau melihat status temannya yang sedang nongkrong tanpa melibatkan dirinya.
Beban parah ini juga menyebabkan kurangnya waktu tidur, dan interaksi nyata di ruang terbuka.
Keterbatasan Bukti Ilmiah
Banyak juga para peneliti yang menentang pandangan ini karena kurangnya bukti yang ada dan tidak terburu-buru mengkambing hitamkan media sosial sebagai penyebab satu-satunya.
Banyak ulasan akademis peer-reviewed (termasuk tinjauan mega dari National Academy of Sciences) menyimpulkan bahwa hubungan kausalitas antara media sosial dan kesehatan mental populasi remaja sebenarnya masih lemah, tidak konsisten, dan bercampur.
Terlepas dari perdebatan ilmiah yang menyalahkan sosial media, atau kurangnya bukti yang ada fakta bahwa Gen Z sedang tidak baik-baik saja divalidasi oleh keinginan mereka sendiri.
Berdasarkan survei Gallup dan data di Inggris, lebih dari 40% Gen Z di AS berharap platform seperti Snapchat dan TikTok tidak pernah diciptakan, dan lebih dari separuh remaja perempuan di Inggris mendambakan bisa tumbuh besar di dunia yang tidak memiliki internet sama sekali.
Remaja hari ini harus menghadapi kenyataan pahit di mana setiap momen emosional, kebodohan, atau ketidaktahuan mereka bisa direkam, disebar, dan hidup selamanya di internet, sebuah beban psikologis berat yang tidak pernah dirasakan oleh generasi-generasi sebelumnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni