RADARTUBAN – Di era digital dengan dinamika aliran informasi, Gen Z tidak asing dengan istilah ‘doomscrolling' atau terus menerus scrolling di sosial media sampai lupa waktu.
Seringkali kita bangun dan langsung menatap layar kaca untuk mendapatkan informasi baru, hiburan unik, atau hanya sekadar untuk melihat unggahan teman.
Dengan banyaknya waktu yang dihabiskan oleh generasi internet di sosial media, mulai banyak yang menyadari berkurangnya attention span untuk fokus pada hal-hal penting tanpa adanya keinginan untuk mencari distraksi dari sosial media.
Namun, apakah kemampuan fokus kita benar-benar menurun secara permanen atau hanyalah keadaan yang sementara? Dalam sebuah wawancara bersama BBC Global, YouTuber sains dari kanal Howtown, Jos Fong, membedah apa saja yang sejauh ini berhasil didapatkan oleh penelitian terkait dampak ‘doomscrolling’.
Baca Juga: Jaksa Agung Ancam Copot Jaksa yang Pamer Atribut Dinas di Media Sosial demi Popularitas
Kabar baiknya, sains belum memiliki bukti kuat untuk menyatakan bahwa kebiasaan ‘doomscrolling' dapat merusak otak manusia secara permanen, masalah utamanya bukanlah sosial media namun pada lingkungan.
Fong mengibaratkan ponsel kita sebagai “seekor monyet yang sedang meniup trompet”. Jika monyet tersebut terus berada di samping kita maka kita tidak akan dapat berfokus pada kegiatan lainnya seperti membaca buku, atau menonton film dengan tenang.
Eksperimen sederhana dapat dilakukan dengan menjauhkan ponsel selama tiga hari, dan biasanya cukup untuk membuktikan bahwa kemampuan fokus kita sebenarnya masih berfungsi bila distraksi yang ada disingkirkan.
Strategi menghadapi ketergantungan sosial media seperti dengan membatasi durasi waktu buktinya sering tidak berhasil, dan langkah yang lebih efektif adalah menetapkan aturan dimana hanya mengizinkan membuka aplikasi dalam situasi spesifik tertentu, seperti saat berada di atas treadmill, mengantre, dan tidak menyentuh di luar wilayah tersebut. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni