Sisi Gelap Thrifting: Saat Baju Bekas dari Negara Maju Berubah Jadi Limbah di Negara Berkembang

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 20:02 WIB
Ilustrasi pakaian thrifting
Ilustrasi pakaian thrifting

RADARTUBAN – Thrifting atau membeli barang atau pakaian bekas bukanlah hal yang memalukan lagi namun, sudah menjadi hal lumrah.

Siapa yang akan menyangka kalau tren yang berasal dari kepedulian lingkungan karena banyaknya jumlah limbah tekstil ternyata menyembunyikan realitas kelam dalam merusak ekosistem dan juga ekonomi negara berkembang.

Melalui video analisis bertajuk "Sisi Gelap Thrifting: Sampah Busuk Negara Maju Menghancurkan Negara Miskin", kanal YouTube Kendati

Demikian mengupas bagaimana industri fast fashion dan skema donasi palsu telah menjadikan negara-negara berkembang sebagai tempat pembuangan akhir limbah tekstil dunia.

Setiap tahunnya demi menuruti tren fast fashion, industri tekstil memproduksi hingga 100 milliar potong pakaian. Mirisnya, rata-rata konsumen di negara maju hanya mengenakan pakaian dari 7 hingga 10 kali sebelum dibuang atau didonasikan.

Baca Juga: Epson Perkuat Dominasi di Industri Tekstil Digital Lewat Printer Dye-Sublimation Generasi Terbaru SC-F20030

Namun, investigasi menunjukan bahwa toko amal di negara maju hanya mampu menjual sekitar 20 persen dari baju yang disuumbangkan dan 80 persen sisanya dijual ke pedagang grosir internasional untuk dikirim ke negara-negara penerima seperti Kenya, Ghana, Pakistan, dan Indonesia.

Pakaian-pakaian bekas itu dipadatkan ke dalam bal-bal besar dan diekspor ke negara-negara berkembang di Afrika, Asia, hingga Amerika Latin. Namun, ada harga mahal yang harus dibayar.

Para pedagang lokal yang membeli bal pakaian impor ibarat sedang bertaruh nasib. Laporan mengungkapkan bahwa 20 hingga 50 persen isi bal pakaian tersebut berada dalam kondisi rusak parah, sobek, bahkan bernoda dan berjamur.

Tak hanya menumpuk sebagai sampah padat, serpihan serat sintetis dari pakaian bekas ini terlepas saat dicuci dan menjadi kontributor terbesar mikroplastik di lautan. 

Mikroplastik ini kemudian tertelan oleh biota laut dan pada akhirnya masuk kembali ke dalam rantai makanan manusia. Di sisi lain, banjir pakaian bekas impor berkualitas rendah juga perlahan mematikan industri tekstil lokal di negara penerima dikarenakan harga yang murah.

Praktik perdagangan limbah tekstil berskala global ini membuktikan bahwa thrifting yang didasari sebagai gerakan penyelamatan ekosistem malah dikapitalisasikan menjadi bisnis untuk menjual sampah-sampah tekstil. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Thrifting limbah Pakaian Bekas tekstil tren