RADARTUBAN – Para pendidik, peneliti, dan pengamat sosial dari berbagai negara kini sedang menyoroti permasalahan mengenai penurunan signifikan pada kemampuan akademik, perkembangan fisik, hingga regulasi emosi pada Generasi Alpha.
Generasi Alpha atau Gen Alpha sendiri merupakan golongan anak yang lahir dari tahun 2010 sampai 2020-an.
Sebagaimana laporan video analisis dari channel YouTube Ashley Embers, fenomena ini telah berkembang menjadi krisis pendidikan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar penurunan nilai ujian secara umum.
Berdasarkan hasil evaluasi National Assessment of Educational Progress (NAEP) yang diulas dalam laporan Ashley Embers, sekitar sepertiga dari siswa tingkat akhir sekolah menengah atas di Amerika Serikat saat ini tidak memiliki keterampilan membaca tingkat dasar.
Banyak di antara anak-anak ini merupakan siswa yang sempat mengalami gangguan sistem pembelajaran mandiri di rumah saat pandemi COVID-19, lalu naik kelas tanpa pernah berhasil mengejar ketertinggalan materi pembelajaran awal mereka.
Baca Juga: Cara Belajar Generasi Alpha Berubah, Dari Buku Kini Beralih ke Layar Digital
Namun, akar permasalahan yang melanda Generasi Alpha bukan hanya disebabkan oleh efek sisa pandemi, melainkan oleh ketergantungan gawai sejak usia yang sangat dini.
Mengutip riset dari Common Sense Media dan Ericsson Institute, laporan tersebut mengungkapkan bahwa sekitar 85 persen orang tua mengizinkan anak di bawah usia enam tahun menggunakan perangkat digital tanpa batasan khusus. Bahkan, lebih dari separuh anak telah memiliki gawai pribadi pada saat mereka menginjak usia delapan tahun.
Dampak dari tingginya waktu penggunaan layar (screen time) ini berdampak langsung pada fisik dan kemampuan motorik anak, Selain itu, ketergantungan pada layar juga memicu apa yang disebut para ahli sebagai cognitive offloading atau pemindahan beban kognitif.
Anak-anak Generasi Alpha tumbuh menjadi generasi yang tidak akrab dengan proses mencari informasi secara analog maupun berpikir mandiri.
Masalah lain yang tak kalah krusial adalah kegagalan dalam membentuk regulasi emosi. Kebiasaan sebagian orang tua yang memberikan gawai saat anak menangis atau merasa bosan dinilai menghambat proses alamiah anak dalam mengelola rasa frustasi.
Begitu gawai diambil, tak jarang anak-anak mengalami ledakan emosi (tantrum) hingga gejala kecemasan karena belum terlatih menghadapi situasi yang tidak pasti atau ketidaknyamanan tanpa bantuan stimulasi digital.
Krisis literasi dan keterampilannya yang dialami Generasi Alpha kini berkembang menjadi isu serius yang mengancam perkembangan mental, fisik, dan sosial anak.
Sebagaimana disoroti dalam laporan kanal Ashley Embers, ketergantungan pada gawai dan kecerdasan buatan sejak dini terbukti mengikis fokus, mengganggu perkembangan motorik halus, serta menghambat pembentukan regulasi emosi secara mandiri.
Apabila tidak segera diimbangi dengan pola pengasuhan yang melatih daya pikir kritis serta pembatasan waktu layar, generasi ini dikhawatirkan akan mengalami ketidaksiapan dalam menghadapi tantangan di dunia nyata dan dunia kerja masa depan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni