Fenomena Childfree di Kalangan Gen Z Meningkat, Dokter Kandungan Ungkap 4 Faktor Utamanya

Puput Dwi Indrawati • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 15:04 WIB
Ilustrasi memperlihatkan sepasang pasangan yang memilih menjalani kehidupan childfree. (RADARTUBAN/AI)
Ilustrasi memperlihatkan sepasang pasangan yang memilih menjalani kehidupan childfree. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN – Keputusan untuk tidak memiliki anak atau childfree semakin sering menjadi perbincangan di kalangan generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z).

Di tengah tren penurunan angka kelahiran, semakin banyak anak muda yang mempertimbangkan berbagai aspek sebelum memutuskan menjadi orang tua.

Topik tersebut dibahas dalam episode terbaru podcast YouTube Suara Berkelas bertajuk "Angka Kelahiran Menurun! Kebohongan yang Tersebar di Masyarakat!" yang menghadirkan dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Indra Tarigan, Sp.OG.

Dalam perbincangan itu, dr. Indra menjelaskan bahwa menurunnya tingkat fertilitas tidak dapat dipahami hanya dari satu sudut pandang.

Menurutnya, terdapat berbagai faktor yang saling berkaitan dan memengaruhi cara generasi muda memandang keputusan memiliki anak.

Baca Juga: Momen Bersejarah! Howletts Inggris Sambut Kelahiran Perdana Empat Bayi Harimau Sumatra yang Terancam Punah

Ia menilai pola pikir Gen Z berbeda dengan generasi sebelumnya. Jika dahulu kehadiran anak dianggap sebagai bagian yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan pernikahan, kini banyak pasangan memilih menunda bahkan memutuskan untuk tidak memiliki anak setelah melalui berbagai pertimbangan.

Faktor Ekonomi Masih Menjadi Pertimbangan

Salah satu alasan yang paling sering muncul adalah persoalan ekonomi.

Biaya membesarkan anak yang terus meningkat, mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga pendidikan, membuat banyak pasangan merasa perlu memiliki kondisi finansial yang benar-benar stabil sebelum membangun keluarga.

Namun, menurut dr. Indra, persoalan tersebut bukan satu-satunya penyebab.

Kesiapan Mental Dinilai Tak Kalah Penting

Ia menekankan bahwa kesiapan mental justru menjadi faktor yang semakin banyak dipertimbangkan generasi muda.

Meski memiliki kondisi ekonomi yang baik, sebagian orang tetap merasa belum siap menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua.

Perasaan tersebut sering kali dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil maupun pola pengasuhan yang mereka alami.

Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga dengan tekanan ekonomi, konflik berkepanjangan, atau pengalaman emosional yang kurang menyenangkan cenderung lebih berhati-hati ketika memikirkan kehidupan berkeluarga di masa depan.

Pengaruh Media Sosial Ikut Membentuk Cara Pandang

Selain faktor ekonomi dan mental, dr. Indra juga menyoroti besarnya pengaruh media sosial terhadap cara berpikir generasi muda.

Menurutnya, berbagai konten yang membahas childfree sebagai pilihan hidup yang sah membuat masyarakat, terutama Gen Z, semakin terbuka terhadap keputusan tersebut.

Paparan informasi yang terus-menerus di media sosial dinilai turut membentuk perspektif baru bahwa memiliki anak bukan lagi dianggap sebagai kewajiban, melainkan pilihan pribadi yang harus disesuaikan dengan kesiapan masing-masing individu.

Di sisi lain, tidak sedikit anak muda yang merasa khawatir kehadiran anak justru akan membatasi kebebasan maupun menambah beban hidup pada masa mendatang.

Bukan Sekadar Tren Sesaat

Dr. Indra Tarigan menegaskan bahwa penurunan angka kelahiran tidak dipicu oleh satu faktor tunggal. Menurutnya, fenomena tersebut merupakan hasil dari berbagai aspek yang saling berkaitan, mulai dari kondisi ekonomi, kesiapan psikologis, pengalaman hidup, hingga perubahan pola pikir akibat perkembangan media sosial.

Karena itu, ia menilai keputusan childfree yang kini banyak muncul di kalangan Gen Z tidak bisa dipandang hanya sebagai tren sementara.

Pilihan tersebut lebih merupakan hasil pertimbangan panjang mengenai kesiapan individu dalam menjalani peran sebagai orang tua.

Fenomena ini sekaligus menunjukkan adanya perubahan cara pandang generasi muda terhadap keluarga dan masa depan, seiring meningkatnya kesadaran bahwa menjadi orang tua membutuhkan kesiapan yang tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga emosional dan psikologis. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
penurunan angka kelahiran gen childfree generasi muda