Mengapa Pria Lebih Sering Memendam Masalah? Ini Penjelasan Neurosains Menurut dr. Aisyah Dahlan

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 11:28 WIB
Sesi perbincangan antara Raditya Dika dan dr. Aisyah Dahlan. (Tangkapan layar youtube Raditya Dika)
Sesi perbincangan antara Raditya Dika dan dr. Aisyah Dahlan. (Tangkapan layar youtube Raditya Dika)

RADARTUBAN - Fakta mengenai pria yang lebih memilih diam dan memendam masalahnya sendiri sering kali menimbulkan kesalahpahaman dalam hubungan.

Pasangan maupun lingkungan  terdekat tak jarang menganggap sikap tertutup tersebut sebagai bentuk ketidakpercayaan atau ketidakmauan  berdiskusi, atau bahkan sikap egois.

Padahal, dari sudut pandang neurosains, ada alasan biologis dan mekanisme kerja otak yang membuat pria membutuhkan waktu mandiri sebelum siap membuka percakapan.

Seperti yang dilansir dari perbincangan di kanal YouTube Raditya Dika bersama pakar neurosains dr. Aisyah Dahlan, kecenderungan pria untuk diam saat menyikapi persoalan adalah hal yang alami.

Jika wantia cenderung langsung mengutarakan emosinya lewat kata-kata, otak pria bekerja dengan menganalisis dan menyusun solusi secara internal terlebih dahulu.

Baca Juga: Sering Lelah dan Mudah Cemas? Waspadai Hipogonadisme, Dampak Penurunan Testosteron pada Pria

Seperti penjelasan dr. Aisyah Dahlan, pria memiliki tahapan berpikir tersendiri saat menghadapi masalah. 

"Laki-laki jarang langsung bicara kalau ada masalah karena dia memikirkan dulu. Dia menganalisa, mencari alternatif solusi, baru menyusun perencanaan. Nanti kalau sudah lengkap dan mendapatkan jawaban, baru dia mau cerita," ungkapnya. 

Perbedaan ini dipengaruhi oleh bagian otak bernama hipotalamus. Pada pria, ukuran hipotalamus jauh lebih lebar, bahkan mencapai dua kali lipat dibandingkan wanita.

Hipotalamus sendiri berfungsi sebagai pusat menjaga keamanan dan mengontrol naluri bertahan hidup. Struktur yang lebar ini membangkitkan naluri alamiah yang kuat dalam diri pria untuk melindungi dan mempertahankan eksistensi diri di hadapan orang lain.

Naluri pelindung tersebut membuat pria enggan menceritakan masalahnya kepada orang terdekat. Saat dihadapkan pada tekanan berat, energi otak pria tersedot penuh untuk fokus mencari pemecahan masalah. Menuntut pria untuk terbuka tentang perasaannya, dalam kondisi ini justru berpotensi menimbulkan tekanan emosional tambahan atau reaksi defensif.

Selain faktor hipotalamus, tipe watak bawaan juga berpengaruh. Sekitar 25 persen populasi memiliki watak pemikir yang cenderung perfeksionis dan sangat teliti. Saat di hadapkan dengan masalah, mereka akan menarik diri sejenak untuk memproses semuanya di dalam kepala hingga menemukan keputusan yang matang.

Fenomena "laki-laki tidak bercerita" bukanlah wujud dari sikap acuh tak acuh, melainkan sebuah bentuk adaptasi neurologis dan naluri pelindung biologis.

Pria memerlukan waktu untuk merenung dan memecahkan masalahnya sendiri sebelum akhirnya menemukan solusi dan siap berbagi cerita. Dengan memahami perbedaan ini, orang terdekat dapat memberikan dukungan yang tepat tanpa harus menghakimi, sehingga komunikasi yang sehat dapat terwujud. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
bercerita pria hubungan diam