Psikolog Ungkap Alasan Seseorang Ramah di Luar Tapi Emosional di Rumah, Ternyata Berawal dari Pola Asuh

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 12:55 WIB
Ilustrasi proses penguraian ketegangan emosional dan pentingnya pola komunikasi yang tepat antara anak dan keluarga. (pinterest.com)
Ilustrasi proses penguraian ketegangan emosional dan pentingnya pola komunikasi yang tepat antara anak dan keluarga. (pinterest.com)

RADARTUBAN - Kejadian dimana seseorang yang tampil begitu ramah, ceria, dan aktif saat berada di lingkungan luar, namun mendadak menjadi pendiam atau mudah emosional ketika di rumah sering kali memicu pertanyaan.

Tidak sedikit keluarga yang menganggap sikap kontras tersebut sebagai wujud ketidakpedulian atau bentuk perlawanan.

Padahal, jika dilihat dari sudut pandang psikologi pengasuhan, dinamika tersebut berhubungan erat dengan luka masa lalu dan proses tumbuh kembang dalam sebuah keluarga.

Mengutip dari perbincangan hangat di kanal YouTube Yuli Suliswidiawati bersama pakar psikologi, kecenderungan seseorang menjadi betah berada di luar dan memilih melampiaskan waktunya untuk berorganisasi atau berkumpul bersama teman sering kali merupakan bentuk strategi pertahanan diri.

Ketika suasana di dalam rumah dirasa tidak nyaman dan minim rasa tenang, seseorang secara tidak sadar akan mencari ruang penerimaan di luar rumah.

Baca Juga: 8 Ciri Orang yang Terbiasa Memendam Perasaan Sejak Kecil, Dari Pendiam dan Dingin hingga Kuat Menghadapi Krisis

Akar masalah tersebut sering kali bermula dari proses pengasuhan orang tua di masa lalu yang kurang memberikan rasa nyaman. 

"Setiap anak butuh diterima dan dikembangkan sesuai fitrahnya dengan rasa tenang. Namun, banyak orang tua yang sebenarnya sangat menyayangi anak, hanya saja mereka tidak tahu caranya karena dulunya juga memiliki luka yang belum selesai," ungkap Yuli Suliswidiawati.

​Trauma masa lalu yang di pendam orang tua sering terulang kembali secara tidak sadar dalam pola asuh anak.

Meski seseorang secara sadar bertekad tidak ingin meniru sikap emosional orang tuanya, pikiran bawah sadar yang mendominasi hingga 70 persen tetap dapat memicu luapan emosi spontan. Alhasil, komunikasi di rumah menjadi tegang dan membuat anggota keluarga saling menutup diri.

Untuk memutus rantai emosi negatif tersebut, langkah awal perlu diawali dari kesadaran diri sendiri tanpa perlu menggantungkan perubahan tersebut pada sikap orang lain.

Anak atau anggota keluarga yang sudah menyadari situasi ini dapat mengambil inisiatif untuk melembutkan suasana melalui komunikasi yang lebih asertif dan diselingi sedikit nada santai.

perbedaan sikap seseorang yang ramah di luar namun emosional di rumah merupakan tanda adanya ketidaknyamanan emosional serta pola pengasuhan masa lalu yang perlu disembuhkan.

Kunci untuk mulai sembuh dari trauma adalah berdamai dengan kenyataan bahwa setiap orang tua sebetulnya ingin memberikan yang terbaik, hanya saja mereka kerap terhambat oleh keterbatasan cara.

Dengan inisiatif untuk saling memaafkan dan memperbaiki pola komunikasi, orang terdekat serta keluarga dapat kembali menciptakan rumah sebagai tempat pulang yang aman dan menenangkan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
ramah trauma Emosional pendiam