RADARTUBAN - Perasaan lelah mental, hampa, hingga merasa terjebak (stuck) dalam rutinitas harian kini menjadi persoalan yang sering dialami banyak orang.
Banyak individu merasa kelelahan bukan karena melakukan aktivitas yang terlalu padat, melainkan karena merasa tidak memiliki arah tujuan dan hanya menjalani hidup secara otomatis (autopilot).
Tanpa disadari, pola pikir yang pasrah dan kecenderungan menyalahkan keadaan sekitar justru menjadi penghalang utama yang mengunci potensi seseorang untuk berkembang.
Fase merasa terhenti dan melelahkan ini kerap muncul ketika seseorang membiarkan dirinya bergantung pada situasi luar.
Banyak orang secara tidak sadar menunggu keadaan berubah atau berharap ada dorongan eksternal untuk menyelamatkan hidupnya, padahal kendali penuh atas arah masa depan sejatinya berada di tangan diri sendiri.
Baca Juga: Sering Lelah dan Mudah Cemas? Waspadai Hipogonadisme, Dampak Penurunan Testosteron pada Pria
Dikutip dari penjelasan konten kreator Jingga dalam kanal YouTube Jingga’s Jive, penyebab utama seseorang sulit keluar dari rasa stuck adalah keterbatasan pola pikir yang menyerah sebelum mencoba.
"Kadang yang membuat kita terhenti bukan karena masalahnya terlalu besar, tetapi karena pola pikir kita sendiri yang terlalu kecil dan terlanjur menganggap diri tidak mampu berubah. Kita punya kendali penuh untuk memilih respons dan reaksi atas setiap kejadian yang menimpa kita," ungkap Jingga.
Lebih lanjut dijelaskan, untuk menunbuhkan rasa percaya diri dan mengatasi rasa hampa, seseorang tidak bisa sekadar mengeluh tanpa adanya aksi nyata.
Langkah awal untuk memulihkan kendali diri dapat dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang konsisten, seperti rutin menuangkan pikiran melalui jurnal harian serta menghentikan kebiasaan menunda-nunda perubahan hingga menunggu momen tertentu.
Membangun keberanian untuk mengambil tindakan menjadi kunci utama untuk memutus rasa ketidaknyamanan. Menunda tindakan demi momen yang pas hanya akan memperpanjang kondisi lelah mental yang dialami.
Perasaan stuck dan lelah dalam menjalani hidup merupakan sinyal bahwa seseorang perlu memperbarui pola pikir serta mengambil alih kendali atas pilihannya sendiri. Perubahan nyata tidak akan terjadi dari situasi luar, melainkan dari keberanian diri untuk mulai bertindak.
"Stop nunggu di selametin, selametin dirimu sendiri" ungkap nya.
Dengan membangun kebiasaan positif dan mengambil kepemilikan atas reaksi diri, seseorang dan orang-orang terdekat dapat saling menginspirasi untuk menciptakan kualitas hidup yang lebih bermakna. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni