RADARTUBAN – Kebiasaan menggulir layar ponsel tanpa henti untuk membaca berita-berita negatif atau doom scrolling ternyata bukan sekadar kebiasaan buruk biasa.
Aktivitas ini secara nyata dapat merusak sistem kerja otak manusia secara biologis.
Dilansir dari kanal YouTube Malaka Books, Abigail Limuria dan Cania Citta membedah studi ilmiah terkait dampak buruk paparan informasi negatif yang terus-menerus terhadap kesehatan mental dan respons fisiologis otak.
Abigail menjelaskan, penelitian mengenai tragedi pengeboman Boston Marathon mengungkapkan fakta mengejutkan.
Orang yang melakukan doom scrolling berita pengeboman selama sekitar enam jam sehari justru mengalami tingkat stres dan respons trauma yang lebih parah dibandingkan korban yang berada langsung di lokasi kejadian.
Baca Juga: Brainrot Bukan Sekadar Istilah Viral, Penelitian Ungkap Scrolling TikTok Bisa Ganggu Fokus
"Nah, yang dia temuin untuk orang-orang yang terpapar doom scrolling selama sekitar per harinya 6 jam itu ternyata pertama mereka PTSD atau trauma response yang mirip kayak orang yang beneran jadi korban dan yang kedua most of the time kebanyakan orang yang doom scrolling itu PTSD-nya lebih parah dari korban pengeboman itu sendiri," ungkap Abigail dalam tayangan podcast Malaka Books.
Secara biologis, otak manusia belum berevolusi untuk membedakan antara ancaman nyata di depan mata dengan visual atau teks di layar ponsel.
Saat melihat berita yang menakutkan atau memicu kecemasan, otak secara otomatis memproduksi hormon kortisol (hormon stres) dan adrenalin.
Jika seseorang terus doom scrolling, kedua hormon tersebut dipicu tanpa henti sehingga dua sistem utama di otak terganggu, yaitu stress regulation (sistem regulasi stres) dan reward system (sistem penghargaan).
Akibatnya, kemampuan tubuh dalam mengontrol emosi menjadi rusak. Seseorang akan lebih mudah cemas, mengalami gelisah berlebihan, insomnia, hingga timbul ketegangan fisik seperti otot panggul atau bahu kaku.
Selain itu, hilangnya fungsi reward system membuat seseorang sulit merasakan kesenangan dari hal-hal sederhana yang sebelumnya mereka nikmati.
Kondisi ini makin diperparah oleh algoritma media sosial dan fenomena rage bait, yakni konten yang sengaja dirancang memancing kemarahan publik demi mengejar engagement dan monetisasi.
Untuk mengatasi dampak yang merusak ini, Cania Citta menyarankan agar masyarakat mulai menerapkan alternatif yang benar agar terhindar dari dampak buruk doom scrolling.
"Iya. Dan tadi mencari alternatif benar e keluar dari doom scrolling trap bikin activities lain... bagus juga kalau bisa diterapin suatu disiplin di mana ee sehari-hari lu punya alokasi waktu yang tegas terhadap room scrolling... bisa jalan-jalan di taman tadi mungkin baca buku... dengan berbagai alternatif itu harusnya bisa berkurang ya efek detrimental dari scrolling," jelas Cania.
Selain menetapkan alokasi waktu layar screen time yang ketat setiap harinya, mengalihkan perhatian ke aktivitas fisik, olahraga, serta membaca buku fisik menjadi langkah efektif untuk meriset kembali sistem kerja otak agar terbebas dari jebakan stres berulang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni