Childfree Makin Populer di Kalangan Gen Z, Benarkah Mereka Tak Mau Bertanggung Jawab?

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 07:53 WIB
Banyak Gen Z yang lebih memilih childfree di tengah lonjakan biaya hidup. (pinterest.com)
Banyak Gen Z yang lebih memilih childfree di tengah lonjakan biaya hidup. (pinterest.com)

RADARTUBAN — Tingkat kelahiran di berbagai negara maju dan berkembang terus meluncur ke titik terendah dalam sejarah modern.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Amerika Serikat mencatat penurunan drastis angka kelahiran pada Generasi Z (Gen Z), yakni lebih dari 50 persen lebih rendah dibandingkan pada era 1950-an.

Fenomena serupa juga melanda kawasan Asia hingga Eropa. Sayangnya, wacana publik dan narasi media arus utama sering kali mengutuk penurunan ini sebagai bentuk "keegoisan" atau kecenderungan generasi muda yang lebih memilih gaya hidup santai, liburan, dan enggan memikul tanggung jawab.

Namun, analisis mendalam menunjukkan akar permasalahan yang jauh lebih kompleks dan bersifat struktural.

Seperti dikutip dari kanal YouTube Damon Cassidy, narasi yang menyudutkan Gen Z sebagai kelompok egois merupakan penyederhanaan masalah yang menyesatkan.

Baca Juga: Fariz Gamal Beberkan Alasan Gen Z Makin Mantap Pilih Childfree: Anak Bukan Asuransi Masa Tua!

Realitasnya, fenomena ini dipicu oleh beban ekonomi yang luar biasa berat, krisis keterjangkauan hunian, hingga keputusasaan terhadap masa depan.

​Perspektif historis membuktikan bahwa nilai ekonomi seorang anak telah mengalami pergeseran fundamental selama dua abad terakhir.

Pada era awal industrialisasi dan masyarakat agraris akhir abad ke-18 hingga abad ke-19, anak-anak dipandang sebagai aset ekonomi keluarga.

Mereka berkontribusi langsung pada pendapatan rumah tangga melalui tenaga kerja di sektor manufaktur maupun pertanian.

Dalam laporan keuangan bersejarah tahun 1791, Alexander Hamilton bahkan memandang tenaga kerja anak sebagai penggerak industri domestik.

Perubahan drastis terjadi seiring urbanisasi dan modernisasi pada abad ke-20. Anak-anak tidak lagi menjadi sumber pendapatan, melainkan investasi jangka panjang yang membutuhkan biaya pendidikan dan perawatan besar.

Sejak saat itu, angka kelahiran mulai menurun secara konsisten di kalangan kelas menengah dan pekerja. 

Saat ini, Gen Z dihadapkan pada realitas ekonomi yang jauh lebih brutal dibandingkan generasi orang tua atau kakek-nenek mereka.

Nilai mata uang terus tergerus inflasi puluhan tahun, sementara upah tidak mengalami kenaikan untuk menutup inflasi.

Jika dahulu biaya pendidikan tinggi dapat dipenuhi melalui pekerjaan paruh waktu berupah minimum selama 24 jam seminggu, kini mahasiswa harus mengantongi standar upah minimal 21 dolar AS per jam.

Baca Juga: Fenomena Childfree di Kalangan Gen Z Meningkat, Dokter Kandungan Ungkap 4 Faktor Utamanya

Nilai ini melampaui rata-rata pendapatan riil angkatan kerja muda AS saat ini.

​Di sisi lain, pasar kerja global semakin tidak ramah bagi angkatan kerja muda. Menurut data lembaga riset Revelio Labs, usia rata-rata pekerja baru naik menjadi 42 tahun pada tahun 2025.

Perusahaan menjadi kian konservatif dan menghindari risiko dengan memprioritaskan tenaga berpengalaman atau mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (AI).

Penggunaan AI dan otomatisasi membuat hampir 37 persen pemberi kerja lebih memilih efisiensi teknologi dibandingkan merekrut lulusan perguruan tinggi baru, sehingga menyebabkan lonjakan pengangguran di kalangan pemuda terpelajar.

​Permasalahan ini tidak berhenti pada kalkulasi angka semata, melainkan juga menyentuh aspek kesehatan mental dan pandangan hidup.

Keputusasaan yang dialami Gen Z bersifat global. Di Korea Selatan, generasi muda menjuluki negaranya sebagai "Hell Joseon" untuk menggambarkan masyarakat yang penuh persaingan tanpa harapan.

Di Tiongkok, fenomena "orang tikus" (rat people) mencerminkan kelelahan ekstrem dan pengunduran diri dari persaingan kerja. Sementara di Kanada dan Eropa, generasi muda secara kolektif mulai menyerah pada impian memiliki rumah sendiri.

Penurunan angka kelahiran global yang dialami Generasi Z bukanlah sinyal kehancuran moral atau dominasi sifat egois manusia modern.

Sebaliknya, fenomena ini merupakan sinyal peringatan keras terhadap ketidakseimbangan sistem ekonomi, krisis perumahan, dan hilangnya optimisme masa depan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
kelahiran Gen Z ekonomi childfree