Prita Ghozie Ungkap Kesalahan Finansial yang Sering Dilakukan Anak Muda Usia 20-an

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 16:02 WIB
penyesalan yang sering muncul setelah perilaku belanja impulsif. (pinterest.com)
penyesalan yang sering muncul setelah perilaku belanja impulsif. (pinterest.com)

RADARTUBAN - Menjalani masa peralihan hidup dari usia 20-an, 30-an, hingga 40-an membutuhkan pengelolaan keuangan yang terstruktur dan matang.

Perencana keuangan (financial planner) Prita Ghozie membagikan panduan finansial penting bagi anak muda agar tidak terperangkap dalam masalah keuangan jangka panjang di kemudian hari.

Seperti yang dilansir dari percakapan di saluran YouTube SUARA BERKELAS, Prita membagi perjalanan keuangan ke dalam tiga tahapan utama.

Usia 20-an merupakan masa bertahan hidup (surviving) dengan fokus alokasi living atau kebutuhan pokok. Menginjak usia 30-an, fokus beralih pada tahap stabilisasi melalu alokasi saving serta penataan triangle of income.

Sementara pada usia 40-an, seseorang diharapkan sudah mencapai tahap keberlanjutan (sustain) sehingga mulai bisa menikmati alokasi playing dengan jauh lebih bebas.

Baca Juga: 104 ASN Purnatugas, Bupati Tuban Mas Lindra Ingatkan Pentingnya Literasi Keuangan Demi menghindari Financial Shock

Dari penjelasan Prita Ghozie, terdapat beberapa kesalahan fatal yang sering dilakukan oleh anak muda di usia 20-an dan 30-an. 

Kesalahan paling umum adalah membeli kendaraan di luar batas kemampuan finansial dengan cicilan di atas dua tahun demi aktualisasi status sosial. 

"Membeli aset yang mengalami depresiasi dengan tenor cicilan terlalu panjang sangat berbahaya karena dapat menggerus kemampuan menabung seseorang," ungkap Prita.

Selain itu, ia juga menyoroti nafsu berbelanja furnitur berlebih ketika baru memiliki tempat tinggal, serta meremehkan pentingnya dana pensiun sejak dini.

Dalam menentukan skala prioritas, Prita menekankan empat hal dasar yang wajib dipenuhi secara berurutan, yaitu keberadaan dana darurat, kepemilikan tempat tinggal, dana membesarkan anak, dan dana pensiun.

Pengelolaan keuangan yang sehat memerlukan kedisiplinan dan pemahaman mendalam atas skala prioritas hidup. Mengontrol diri di usia muda serta pembentukan alokasi dana yang tepat akan menghindarkan seseorang dari bahaya dating/financial violence maupun jebakan utang konsumtif.

Melalui perencanaan finansial yang konsisten, setiap individu memiliki kesempatan besar untuk mencapai kebebasan finansial serta kehidupan yang sejahtera di masa depan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
financial anak muda keuangan