RADARTUBAN - Penampilan fisik Generasi Z (Gen Z) belakangan ini menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial akibat fenomena visual yang dinilai tampak jauh lebih tua dari usia biologis mereka yang sebenarnya.
Saat mengunggah konten harian, tidak sedikit anak muda berumur 20-an yang penampilannya justru dinilai netizen mirip usia kepala tiga atau empat.
Fenomena ini memicu beragam diskusi luas mengenai faktor-faktor pemicunya, mulai dari persepsi publik, pilihan tren penampilan, penggunaan riasan wajah sejak dini, hingga pada beban mental sehari-hari yang dihadapi oleh generasi muda saat ini.
Secara umum, pendapat seseorang terhadap usia visual orang lain memang sangat rentan meleset dari kenyataan biologis akibat cara kerja otak manusia dalam membaca sinyal visual.
Namun, terdapat beberapa faktor nyata dan konkret yang secara langsung memengaruhi mengapa penampilan Gen Z terlihat jauh lebih matang dari usianya.
Baca Juga: Penuaan Kulit Ternyata Dimulai Sejak Pubertas, Dokter Ungkap Cara Agar Tetap Glowing
Salah satu penyebab awal terletak pada pilihan gaya busana atau tren fashion vintage yang semakin populer di kalangan anak muda.
Penggunaan pakaian seperti blazer, celana longgar, dan sepatu loafer yang diadaptasi dari gaya retro secara tidak langsung mengarahkan persepsi visual publik pada estetika generasi yang lebih tua.
Dikutip dari kanal YouTube Calon Sarjana dalam tayangan videonya, kebiasaan penggunaan riasan wajah secara berlebihan sejak usia dini serta maraknya teknik kontur turut memberikan ilusi visual wajah yang lebih dewasa.
Gen Z tercatat mulai mengenal dan menggunakan produk kosmetik rata-rata sejak usia 11 tahun, yang didukung oleh konten edukasi dan panduan dari para beauty influencer di internet.
Teknik contouring yang dipelajari tersebut pada dasarnya meniru garis-garis wajah orang dewasa, seperti mempertegas tulang pipi dan menciptakan efek wajah yang lebih cekung, sehingga secara tidak langsung membuang ciri khas alami dari bentuk wajah muda yang cenderung lebih berisi dan kenyal.
Kondisi ini semakin diperparah oleh tingginya permintaan terhadap prosedur medis estetika di kalangan anak muda yang berusia di bawah 30 tahun.
Tindakan kosmetik klinis seperti suntik botox, penggunaan filler, hingga prosedur penipisan lemak pipi malah berujung mempercepat penuaan visual secara prematur.
Lemak alami pada area pipi sebenarnya merupakan petunjuk utama dari kemudaan seseorang, sehingga tindakan medis untuk menajamkan kontur wajah di usia dini justru memudarkan tanda-tanda alami kemudaan tersebut secara prematur.
Penggunaan tindakan estetika berlebihan ini juga berisiko mengurangi elastisitas kulit dan memicu munculnya kerutan di kemudian hari.
"Gen Z sebenarnya tidak menua lebih cepat secara biologis. Yang terjadi adalah kombinasi dari pilihan estetika, paparan konten yang terdistorsi, dan beban stres yang nyata. Pada akhirnya, satu-satunya generasi yang benar-benar menua dengan buruk adalah mereka yang menghabiskan masa mudanya terlalu khawatir soal kelihatan tua," ungkap narator kanal YouTube Calon Sarjana dalam penjelasannya.
Baca Juga: Fenomena Childfree di Kalangan Gen Z Meningkat, Dokter Kandungan Ungkap 4 Faktor Utamanya
Terlepas dari faktor pilihan penampilan dan intervensi estetika luar, tingkat kecemasan psikologis serta pola hidup sehari-hari menjadi penyebab internal yang sangat dominan.
Generasi muda saat ini menghadapi tingkat stres yang relatif tinggi akibat kebiasaan doom scrolling atau terus-menerus mencerna berita traumatik serta informasi negatif di media sosial.
Tingginya paparan stres ini merangsang pelepasan hormon kortisol yang dapat merusak serta mengurangi produksi kolagen alami pada kulit.
Situasi ini kian memburuk akibat masalah kurang tidur kronis yang disebabkan oleh waktu layar (screen time) yang berlebihan, sehingga mempercepat penuaan sel-sel tubuh secara keseluruhan.
Penyumpangan standar kecantikan di media sosial ditambah besarnya tekanan sosial terkait pencapaian hidup di usia muda semakin memperparah kecemasan akut terhadap perubahan fisik akibat penuaan.
Banyak anak muda terjebak dalam siklus merasa kurang dengan penampilan alaminya, lalu berupaya mengubah penampilan hingga justru tampak lebih matang dari usianya.
Fenomena ini memperlihatkan pentingnya menjaga kesehatan mental dan fisik secara seimbang.
Menyikapi kejadian ini secara bijak membutuhkan kesadaran untuk membatasi durasi media sosial, merawat kesehatan tubuh secara wajar, mengelola tingkat stres harian, serta berhenti mengukur nilai diri dari standar persepsi visual lingkungan sekitar. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni