Nikah Muda Bukan Sekadar Ikut Tren, Ustaz Felix Siauw: Salah Nikah Itu Jauh Lebih Parah

Nadia Aulia • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:07 WIB
Ustaz Felix Siauw memberikan tanggapan di podcast Tiki On Air. (Tangkapan layar youtube Felix Siauw)
Ustaz Felix Siauw memberikan tanggapan di podcast Tiki On Air. (Tangkapan layar youtube Felix Siauw)

RADARTUBAN – Tren nikah muda membuat pernikahan seolah menjadi perlombaan. Tak sedikit anak muda yang terdorong untuk segera menikah karena takut kehilangan pasangan, ingin menghindari maksiat, atau sekadar mengikuti tren.

Namun, sebelum mengejar status, sudah siapkah seseorang memikul tanggung jawab dalam pernikahan?

Dalam tayangan TIKI On Air (Spesial Ramadan) di YouTube, Ustaz Felix Siauw membahas dan mengingatkan bahwa menikah bukan sekadar soal usia, tetapi tentang tanggung jawab dan tujuan hidup.

Menurutnya ,  menikah seharusnya dilakukan ketika seseorang telah memiliki kesiapan untuk menjalani tanggung jawab sebagai pasangan.

Baca Juga: Ning Najma Tsuroyya, Putri Ulama Tuban yang Resmi Menikah dengan Kadam Sidik

Usia bukanlah tolak ukur seseorang. Yang lebih penting ialah kesiapan mental, fisik, finansial, serta pemahaman terhadap kehidupan rumah tangga.

“Salah nikah itu,  jauh lebih parah daripada tidak nikah-nikah,” ujarnya.

Dorongan untuk menikah tanpa kesiapan,  justru dapat menimbulkan persoalan baru. Seperti Konflik rumah tangga, masalah komunikasi, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga penelantaran hak pasangan.

Pernikahan yang hanya dibangun untuk mengejar pleasure atau kesenangan pribadi berisiko kehilangan arah ketika perasaan mulai berubah.

“Menikah itu harus karena purpose (tujuan hidup), bukan sekadar pleasure (kesenangan pribadi). Jika hanya mengejar kesenangan, begitu rasa itu hambar, fokusnya akan hilang,” jelas ustaz felix.

Pandangan tersebut tercemin pada  pengalaman pribadinya. Ia mengaku pernah berniat menikah pada usia 18 tahun. Namun, ia memilih menunda rencana tersebut hingga usia 22,5 tahun. Untuk mematangkan kesiapan diri selama 4 tahun.

Baginya, menunda pernikahan bukan berarti menghindarinya. Justru, waktu tersebut dapat digunakan untuk mengenali diri dan memastikan kesiapan sebelum mengambil keputusan besar.

Selain kesiapan mental dan finansial, pemeriksaan kesehatan fisik serta mental juga dinilai penting sebagai jaring pengaman sebelum menikah.

Hubungan dengan orang tua pun perlu diperhatikan ,karena kematangan emosional seseorang dapat tercermin dari cara ia membangun komunikasi dan kasih sayang di lingkungan keluarga.

Pernikahan merupakan sarana untuk menjalankan tujuan hidup yang lebih besar.

Oleh Karena itu, menikah bukan perkara siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang benar-benar siap bertanggung jawab atas pilihan yang diambil.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : Youtube Felix Siaw
ustaz felix anak muda kesiapan mental nikah muda finansial