Bukan Karena Ketinggalan, Ini Alasan Psikologis Orang yang Enggan Ikut Tren

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:10 WIB
 ketika banyak orang yang masih sibuk dengan FOMO dan takut dirinya tertinggal. (pinterest.com)
ketika banyak orang yang masih sibuk dengan FOMO dan takut dirinya tertinggal. (pinterest.com)

RADARTUBAN— Jenis dan ragam tren di era modern berkembang sangat cepat, terutama di kalangan generasi muda seperti Gen Z. Namun di sisi lain, ada orang-orang yang memilih hidup tenang tanpa banyak mengekspos diri.

Kehidupan mereka yang jarang tersentuh hiruk-pikuk tren sering kali disalahartikan sebagai sosok yang tidak update, kaku, atau enggan terlibat dalam fenomena Fear of Missing Out (FOMO).

Dilansir dari kanal YouTube Abdi Suardin, fenomena ketakutan manusia akan ketinggalan tren sejatinya berakar dari naluri alami otak.

Banyak orang mengikuti tren bukan selalu karena menganggap tren itu penting, melainkan karena takut ditinggalkan oleh kelompoknya.

Ketakutan untuk tidak diterima, kesepian, dan dianggap berbeda merupakan dorongan sosial yang membuat seseorang rela menyesuaikan diri demi mendapat pengakuan.

Baca Juga: Tak Lagi Sekadar FOMO, Ini 5 Tren Positif yang Kini Ramai Diikuti Gen Z

Meski demikian, ada alasan-alasan psikologis yang kuat mengapa sebagian orang justru secara sadar memilih untuk tidak mengikuti tren. Salah satunya adalah rasa lelah menggunakan 'topeng' sosial. 

Mengikuti tren sering kali bukan soal selera, melainkan bentuk adaptasi yang berlebihan demi diterima lingkungan. Ketika seseorang menyadari bahwa berpura-pura tidak memberikan kebahagiaan sejati, mereka memilih berhenti karena tidak ingin mengorbankan jati diri hanya demi sebuah pengakuan.

Selain itu, orang yang enggan ikut-ikutan biasanya memiliki identitas internal yang sudah sangat kuat. Seperti yang pernah disampaikan oleh psikolog Eric Erikson, "Ketika identitas seseorang lemah, dia akan meminjam identitas dari orang di luar dirinya."

Seseorang dengan identitas diri yang kokoh sudah mengenali selera, kenyamanan, serta batasannya dengan baik, sehingga tekanan dari luar tak lagi mampu memengaruhinya.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah kepekaan terhadap manipulasi sosial. Mereka menyadari bahwa hal-hal yang viral sering kali bisa direkayasa dan opini mayoritas tidak selalu benar.

Sejalan dengan pandangan psikolog Gustave Le Bon bahwa kerumunan kerap tidak berpikir kritis melainkan sekadar bereaksi, orang-orang ini memilih untuk berpikir tenang sebelum bertindak.

Saat melihat barang viral, mereka akan menguji kebutuhan dirinya alih-alih menyerah pada rasa takut tertinggal.

Mengejar tren pada akhirnya bukan hanya menguras materi, tetapi juga menyita fokus dan perhatian—sebagaimana pernah diungkapkan bapak psikologi modern William James bahwa pengalaman hidup seseorang ditentukan oleh apa yang ia pilih untuk diperhatikan.

Bagi sebagian orang, ruang sunyi dan ketenangan justru dianggap sebagai proses untuk memulihkan diri serta berpikir dengan lebih jernih.

Mengikuti tren tanpa berpikir jernih hanya akan membuat hidup kita dikendalikan oleh arus. Sebaliknya, memilih untuk tidak ikut tren secara sadar adalah bentuk kebebasan dan keberanian untuk menjadi diri sendiri.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : YouTube Abdi Suardin
Gen Z fomo tren psikologis