Kenapa Gen Z Enggan Punya Anak? Biaya Hidup hingga Harga Rumah Jadi Sorotan

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 17:05 WIB
Ilustrasi Pilihan hidup generasi Z antara memiliki anak atau menunda keputusan. (RADARTUBAN/AI)
Ilustrasi Pilihan hidup generasi Z antara memiliki anak atau menunda keputusan. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN— Angka kelahiran di Indonesia mencatatkan penurunan yang cukup signifikan dalam beberapa dekade terakhir.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jika pada tahun 1971 rata-rata seorang wanita di Indonesia melahirkan lima hingga enam anak, angka tersebut merosot hingga mencapai 2,1 pada tahun 2024.

Bahkan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Yogyakarta, angka fertilitas telah berada di bawah dua, yang menandakan bahwa angka kelahiran saat ini tidak lagi mencukupi untuk menggantikan jumlah populasi.

Dilansir dari kanal YouTube Calon Sarjana,  fenomena enggan memiliki anak atau menunda pernikahan di kalangan Generasi Z (Gen Z) bukan sekadar bentuk keegoisan individual, melainkan dampak dari himpitan sistem ekonomi dan finansial yang makin sulit.

Baca Juga: Momen Bersejarah! Howletts Inggris Sambut Kelahiran Perdana Empat Bayi Harimau Sumatra yang Terancam Punahk

Pergeseran fungsi anak dari aset keluarga di masa lampau menjadi beban finansial di era modern membuat perhitungan matematis untuk membesarkan anak menjadi tidak realistis bagi sebagian besar anak muda.

Secara finansial, ketimpangan antara pendapatan dan biaya hidup menjadi pemicu utama. Rata-rata gaji Gen Z di Indonesia berada di kisaran Rp 1,9 juta hingga Rp 3 juta per bulan.

Meski Upah Minimum Provinsi (UMP) tertinggi seperti DKI Jakarta berada di angka Rp 5,4 juta, biaya hidup layak bagi individu di kawasan Jabodetabek kini sudah menembus Rp 7 juta hingga Rp 8 juta per bulan. 

Perkiraan total biaya membesarkan satu anak hingga mandiri dan lulus perguruan tinggi dapat mencapai Rp 3 miliar, belum memperhitungkan laju inflasi pendidikan yang melonjak 10 hingga 15 persen setiap tahunnya.

Masalah ketersediaan dan keterjangkauan hunian juga memperparah kondisi ini. Menurut perhitungan ekonomi, rasio harga rumah terhadap pendapatan di Jakarta mencapai 12,98, yang artinya seseorang harus menabung seluruh pendapatannya selama hampir 13 tahun tanpa pengeluaran apa pun untuk dapat membeli rumah sederhana.

Kenaikan harga properti yang mencapai 3,5 persen per tahun jauh melampaui laju pertumbuhan gaji yang hanya berkisar antara 1,8 hingga 2,5 persen per tahun.

Rasa enggan Gen Z untuk memiliki anak sejatinya bersumber dari keinginan untuk menjadi orang tua yang bertanggung jawab. Mereka enggan membesarkan anak dalam situasi ekonomi yang tidak stabil dan penuh ketidakpastian.

 Tanpa adanya kepastian finansial, keterjangkauan harga hunian, serta jaminan masa depan yang lebih baik, tren penurunan angka kelahiran di kalangan generasi muda ini diprediksi akan terus berlanjut.

Keputusan Gen Z untuk menunda atau tidak memiliki anak merupakan reaksi logis atas ketimpangan ekonomi dan melonjaknya biaya hidup.

Untuk mengubah tren ini, diperlukan perbaikan sistemis pada kesejahteraan kerja, keterjangkauan hunian, dan stabilitas ekonomi bagi generasi muda. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : YouTube Calon Sarjana
Gen Z menunda pernikahan angka kelahiran finansial