Hedonic Adaptation: Mengapa Gaji Naik Tapi Rasa Kurang Uang Tak Pernah Hilang?

Puput Dwi Indrawati • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:15 WIB
Ilustrasi fenomena hedonic adaptation. (RADARTUBAN/AI)
Ilustrasi fenomena hedonic adaptation. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN- Pernahkah Anda merasa sangat bahagia saat pertama kali menerima kenaikan gaji atau mendapatkan penghasilan yang jauh lebih besar? Misalnya saat gaji menyentuh angka sepuluh juta rupiah, nominal tersebut terasa sangat besar dan membuat hati senang.

Namun, seiring berjalannya waktu, rasa bahagia itu perlahan memudar dan nominal tersebut justru terasa biasa saja.

Perubahan perasaan ini dikenal dalam ilmu psikologi sebagai fenomena hedonic adaptation atau adaptasi hedonis.

Dilansir dari kanal YouTube Satu Persen - Indonesian Life School, hedonic adaptation adalah proses psikologis ketika pikiran dan perasaan manusia secara alami beradaptasi dengan kondisi barunya.

Ketika situasi finansial membaik, standar kenyamanan hidup ikut bergeser naik. Akibatnya, hal yang dulunya dianggap istimewa dan mewah lambat laun berubah menjadi standar biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Prita Ghozie Ungkap Kesalahan Finansial yang Sering Dilakukan Anak Muda Usia 20-an

Fenomena inilah yang sering membuat seseorang terjebak dalam rasa kekurangan uang yang tidak pernah usai. Nominal uang yang dulunya dianggap lebih dari cukup, kini hanya terasa pas-pasan karena ekspektasi dan gaya hidup yang terus meningkat.

Kondisi ini diperparah oleh pengaruh media sosial di era digital saat ini.

Paparan gaya hidup, barang mewah, dan pencapaian orang lain yang berseliweran di linimasa secara tidak langsung memicu dorongan untuk terus membandingkan diri.

Media sosial menciptakan standar hidup baru yang seolah wajib dikejar, sehingga rasa puas atas penghasilan sendiri makin sulit didapatkan.

Untuk mengatasi jebakan hedonic adaptation, langkah penting yang perlu dilakukan adalah menyadari fenomena ini sejak awal.

Saat mengalami peningkatan penghasilan, usahakan untuk tidak langsung menaikkan standar gaya hidup secara drastis. Menjaga alokasi tabungan dan investasi justru menjadi kunci agar kondisi finansial tetap stabil.

Selain itu, mengurangi kebiasaan membandingkan diri di media sosial dan mulai memfokuskan pikiran pada rasa syukur atas apa yang dimiliki dapat membantu menahan dorongan belanja yang tak perlu.

Kebahagiaan sejati pada akhirnya bukan berasal dari seberapa besar angka yang masuk ke rekening, melainkan dari sejauh mana kita mampu mengelola keinginan dan menghargai apa yang sudah ada. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : Youtube Satu Persen
hedonic adaptation gaya hidup kenaikan gaji