Gen Z Mulai Tinggalkan Pernikahan Mewah, Pilih Resepsi Kecil demi Masa Depan Finansial

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 18:33 WIB
Pergeseran tren pernikahan di kalangan Generasi Z yang lebih memprioritaskan privasi. (pinterest.com)
Pergeseran tren pernikahan di kalangan Generasi Z yang lebih memprioritaskan privasi. (pinterest.com)

RADARTUBAN — Generasi Z (Gen Z) kini mulai mengubah lanskap industri pernikahan secara signifikan. Fenomena penolakan terhadap resepsi pernikahan tradisional yang serba mewah dan berbiaya mahal kian marak, seiring dengan meningkatnya kesadaran finansial serta tantangan ekonomi global.

Banyak pasangan dari generasi muda ini memilih untuk memangkas tradisi usang dan beralih ke konsep pernikahan yang lebih sederhana, seperti micro wedding atau elopement (pernikahan privat tanpa pesta besar).

Faktor utama di balik pergeseran tren ini adalah melonjaknya biaya penyelenggaraan pesta pernikahan akibat inflasi. Biaya rata-rata pernikahan di beberapa negara maju telah mengalami kenaikan hingga 18 persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Baca Juga: Kenapa Gen Z Enggan Punya Anak? Biaya Hidup hingga Harga Rumah Jadi Sorotan

Kondisi ini membuat mayoritas pasangan Gen Z dan Milenial merasa bahwa mengadakan pernikahan tradisional di era ekonomi saat ini menjadi sangat tidak realistis.

Seperti dikutip dari kanal YouTube Ashley Embers, survei nasional menunjukkan bahwa lebih dari separuh pasangan pengantin baru terpaksa mengambil utang baik melalui kartu kredit, pinjaman bank, maupun pinjaman keluarga demi membiayai pesta pernikahan mereka.

Kondisi ekonomi ini mendorong generasi muda untuk mengevaluasi kembali prioritas keuangan mereka.

Alih-alih menghabiskan puluhan jutaan demi pesta satu hari, banyak pasangan Gen Z yang memilih mengalokasikan dana tersebut untuk investasi jangka panjang, seperti uang muka pembelian rumah, tabungan masa depan, atau sekadar menghindari beban finansial pasca-menikah.

Selain faktor ekonomi, pergeseran budaya terhadap makna pernikahan itu sendiri turut memengaruhi fenomena ini. Usia rata-rata orang yang pertama kali menikah kini telah bergeser naik ke angka 28 hingga 30 tahun.

Selain itu, stigma sosial terhadap status lajang telah berkurang secara signifikan jika dibandingkan dengan generasi terdahulu.

Tumbuh besar dengan menyaksikan angka perceraian yang tinggi pada generasi sebelumnya membuat Gen Z lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk menikah.

Banyak anak muda kini memandang pernikahan bukan lagi sebagai kewajiban sosial yang harus dicapai pada usia tertentu, melainkan sebagai pilihan pribadi yang fleksibel. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : YouTube Ashley Embers
Privat Gen Z pernikahan finansial