Sering Lupa dan Sulit Fokus? Bisa Jadi Ini Kebiasaan yang Diam-Diam Menguras Otak

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 08:20 WIB
Ilustrasi seseorang yang mengalami kesulitan fokus akibat banyaknya distraksi dalam aktivitas sehari-hari. (pinterest.com)
Ilustrasi seseorang yang mengalami kesulitan fokus akibat banyaknya distraksi dalam aktivitas sehari-hari. (pinterest.com)

RADARTUBAN — Kebiasaan menggunakan ponsel dan media sosial secara berlebihan ternyata tidak hanya menghabiskan waktu, tetapi juga dapat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam mempertahankan kefokusan.

Aktivitas scrolling tanpa sadar, berpindah-pindah perhatian, hingga terus menerus menerima notifikasi disebut dapat membuat otak lebih cepat mengalami kelelahan kognitif.

Seperti dilansir dari kanal YouTube Rory Asyari, dalam video tersebut mengundang peniliti bidang ilmu kognitif, Dr. Rizky Me Edison, PhD.

Dalam pembahasannya, ia menjelaskan bahwa salah satu kebiasaan yang dapat menguras energi mental adalah penggunaan media sosial secara tidak terkontrol. 

Baca Juga: Sering Lupa dan Sulit Fokus? Bisa Jadi Otak Anda Sudah Minta Liburan

Ketika seseorang terus berpindah dari satu informasi ke informasi lain, otak harus berulang kali menyesuaikan diri dengan rangsangan baru. 

Kondisi tersebut bukan benar-benar multitasking, melainkan perpindahan perhatian secara cepat atau task switching. 

Kebiasaan tersebut bisa membuat konsentrasi menjadi lebih mudah terpecah.

Notifikasi yang muncul di tengah aktivitas, misalnya, dapat mengalihkan perhatian seseorang dari informasi yang sedang dipelajari atau dikerjakan.

Selain penggunaan media sosial, kebiasaan melakukan banyak pekerjaan sekaligus juga dapat mempengaruhi kemampuan fokus.

Otak membutuhkan waktu untuk kembali menyesuaikan diri ketika perhatian berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya.

Menariknya, video tersebut juga menyoroti pentingnya memberikan waktu bagi otak untuk beristirahat.

Melamun atau berada dalam kondisi tidak terus-menerus menerima rangsangan dari luar bukan berarti tidak produktif.

Dalam kondisi tersebut, otak dapat memasuki keadaan yang berkaitan dengan Default Mode Network (DMN), yaitu jaringan otak yang aktif ketika seseorang tidak sedang berkonsentrasi penuh pada tugas dari luar.

Kondisi ini dikaitkan dengan proses refleksi dan munculnya berbagai ide.

Masalah lupa juga tidak selalu berarti seseorang memiliki daya ingat yang buruk.

Gangguan perhatian akibat suara, notifikasi, atau rangsangan lain dapat membuat informasi yang baru diterima lebih mudah terlewat.

Baca Juga: Kenapa Sulit Fokus? Jawabannya Ada di Cara Kita Mengonsumsi Konten

Karena itu, menjaga kemampuan kognitif dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana. Di antaranya adalah rutin bergerak atau berolahraga, menjaga pola makan, serta tetap melakukan interaksi sosial dengan orang-orang terdekat.

Penggunaan media sosial juga dianjurkan agar tidak dilakukan setiap kali merasa bosan.

Memberikan jeda dari layar, terutama saat makan, belajar, bepergian, atau mengerjakan sesuatu yang membutuhkan konsentrasi, dapat membantu menjaga fokus.

Untuk pekerjaan atau belajar, seseorang juga dapat menerapkan pola single-tasking, yakni menyelesaikan satu topik atau pekerjaan dalam satu waktu sebelum beralih ke aktivitas berikutnya.

Dengan demikian, menjaga kesehatan otak tidak selalu membutuhkan cara yang rumit.

Mengurangi distraksi, memberi waktu untuk beristirahat, bergerak secara rutin, serta membatasi kebiasaan scrolling dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga kemampuan fokus dalam kehidupan sehari-hari.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : YouTube Rory Asyari
lupa kebiasaan kognitif scrolling