Mengapa Kematian Bisa Bikin Keluarga Boncos? Ini Biaya dan Tekanan Sosial di Baliknya

Puput Dwi Indrawati • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 14:39 WIB
Ilustrasi ritual adat pemakaman dan tradisi duka di Tana Toraja. (RADARTUBAN/AI)
Ilustrasi ritual adat pemakaman dan tradisi duka di Tana Toraja. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN- Kematian sering kali dipandang sebagai takdir akhir dari perjalanan hidup manusia.

Namun, di balik rasa duka yang mendalam, ada realitas pahit yang kerap luput dari perhatian, yakni besarnya beban finansial yang harus ditanggung oleh keluarga yang ditinggalkan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa urusan duka kini bukan sekadar ritual perpisahan, melainkan juga perkara pengeluaran yang tidak sedikit.

Jika dilihat dari sudut pandang sosiologi, kondisi ini berkaitan erat dengan konsep conspicuous consumption. Istilah ini menggambarkan perilaku konsumsi yang dilakukan bukan lagi sebatas memenuhi kebutuhan dasar, melainkan untuk menunjukkan status sosial, prestise, atau sekadar menjaga kehormatan di mata masyarakat.

Baca Juga: Dulu Dijuluki Lautan Kematian, Gurun Kubuki Kini Hijau Berkat 4,5 Juta Kelinci

Dalam momen duka, dorongan untuk menggelar prosesi yang megah sering kali lahir dari tekanan sosial agar keluarga tidak dipandang sebelah mata oleh lingkungan sekitar.

Tekanan sosial tersebut makin terasa nyata ketika berbenturan dengan tuntutan adat yang dipegang teguh secara turun-temurun.

Pada masyarakat adat Toraja misalnya, tradisi Rambu Solo mewajibkan pemotongan hewan kurban seperti kerbau dengan kriteria atau jenis tertentu yang harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Bagi masyarakat setempat, ritual ini adalah bentuk penghormatan terakhir sekaligus standar kehormatan keluarga. Tanpa persiapan finansial yang matang, kewajiban adat semacam ini jelas menguras tabungan.

Meski begitu, beban tradisi tidak selalu memberatkan di semua daerah. Di Bali, terdapat tradisi sumbangan komunal melalui sistem banjar.

Tradisi gotong royong ini membuat biaya pemakaman atau ngaben ditanggung bersama oleh warga, sehingga beban finansial keluarga yang berduka dapat jauh berkurang.

Melihat fakta-fakta tersebut, biaya kematian pada akhirnya bukan cuma soal mengurus jenazah, melainkan juga tentang bagaimana keluarga menyeimbangkan antara penghormatan, tuntutan sosial, dan kemampuan finansial.

Memahami batas kemampuan diri serta saling mendukung dalam bermasyarakat menjadi kunci agar momen perpisahan dapat dijalani dengan khidmat, tanpa harus meninggalkan beban finansial yang memberatkan di kemudian hari. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : YouTube Dari Suara
duka kematian finansial