Miris! Tren Kecantikan Tiongkok Bikin Banyak Orang Rela Ubah Tubuh demi Wajah Seragam

Nadia Aulia • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 16:35 WIB
Ilustrasi tren kecantikan ekstrem. (RADARTUBAN/AI)
Ilustrasi tren kecantikan ekstrem. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN – Apa jadinya jika definisi cantik tidak lagi tentang menjadi diri sendiri, tetapi harus memiliki wajah yang seragam?

Fenomena ini terlihat dalam tren kecantikan di Tiongkok yang membuat jutaan orang rela mengeluarkan uang dalam jumlah besar demi mendapatkan bentuk wajah yang dianggap ideal.

Fenomena yang dikenal sebagai Wang Hong Lian tersebut menggambarkan standar kecantikan yang semakin seragam. Wajah kecil, mata lebar,  dagu lancip , hidung mungil serta kulit mulus tanpa pori menjadi gambaran kecantikan yang banyak diidam-idamkan.

Tren ini semakin  berkembang menjadi obsesi bernama  baby face, yaknk ketika orang dewasa berusaha terlihat seperti anak-anak.

Ironisnya, standar semacam ini tidak hanya mendorong perubahan pada wajah. Bentuk kepala dan telinga pun ikut menjadi perhatian.

Baca Juga: Pancarkan Keindahan, 7 Tanda Perempuan dengan Kepribadian Cantik Alami Menurut Psikologi

Dalam kanal youtube Calon Sarjana, ditampilkan berbagai prosedur ekstrem demi mengikuti tren tersebut.

Ada yang rela menyuntikkan 50 bahkan lebih  jarum filler ke kulit kepala demi menciptakan ilusi high skull.  

Ada juga prosedur mematahkan tulang telinga  agar terlihat tidak caplang,  hingga penggunaan bone cement untuk membentuk kepala.

Berbagai tindakan  memiliki risiko serius apabila dilakukan tanpa standar medis yang tepat.
 
Yang lebih miris, tren kecantikan semacam ini  berkembang pesat akibat tingginya  rasa tidak percaya diri , khususnya pengguna  media sosial.

Filter digital membuat seseorang terbiasa melihat wajah yang telah dimodifikasi hingga wajah asli dianggap kurang menarik.

“Filter itu sukses merusak cara pandang otak soal definisi cantik,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam video tersebut.

Fenomena serupa juga dapat ditemukan di Indonesia melalui maraknya layanan kecantikan ilegal yang menawarkan berbagai prosedur dengan harga murah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa keinginan untuk memenuhi standar kecantikan dapat dimanfaatkan menjadi peluang bisnis tanpa mengutamakan keselamatan konsumen.

Tren kecantikan pada akhirnya bukan lagi sekadar persoalan penampilan. Ketika seseorang rela mempertaruhkan kesehatan demi mengikuti wajah yang sedang dianggap ideal, pertanyaannya bukan lagi “Seberapa cantik kita?”, melainkan “Seberapa jauh kita rela mengubah diri hanya untuk memenuhi standar orang lain?”(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : YouTube Calon Sarjana
tren kecantikan cantik tiongkok dewasa