RADARTUBAN – Apa jadinya jika definisi cantik tidak lagi tentang menjadi diri sendiri, tetapi harus memiliki wajah yang seragam?
Fenomena ini terlihat dalam tren kecantikan di Tiongkok yang membuat jutaan orang rela mengeluarkan uang dalam jumlah besar demi mendapatkan bentuk wajah yang dianggap ideal.
Fenomena yang dikenal sebagai Wang Hong Lian tersebut menggambarkan standar kecantikan yang semakin seragam. Wajah kecil, mata lebar, dagu lancip , hidung mungil serta kulit mulus tanpa pori menjadi gambaran kecantikan yang banyak diidam-idamkan.
Tren ini semakin berkembang menjadi obsesi bernama baby face, yaknk ketika orang dewasa berusaha terlihat seperti anak-anak.
Ironisnya, standar semacam ini tidak hanya mendorong perubahan pada wajah. Bentuk kepala dan telinga pun ikut menjadi perhatian.
Baca Juga: Pancarkan Keindahan, 7 Tanda Perempuan dengan Kepribadian Cantik Alami Menurut Psikologi
Dalam kanal youtube Calon Sarjana, ditampilkan berbagai prosedur ekstrem demi mengikuti tren tersebut.
Ada yang rela menyuntikkan 50 bahkan lebih jarum filler ke kulit kepala demi menciptakan ilusi high skull.
Ada juga prosedur mematahkan tulang telinga agar terlihat tidak caplang, hingga penggunaan bone cement untuk membentuk kepala.
Berbagai tindakan memiliki risiko serius apabila dilakukan tanpa standar medis yang tepat.
Yang lebih miris, tren kecantikan semacam ini berkembang pesat akibat tingginya rasa tidak percaya diri , khususnya pengguna media sosial.
Filter digital membuat seseorang terbiasa melihat wajah yang telah dimodifikasi hingga wajah asli dianggap kurang menarik.
“Filter itu sukses merusak cara pandang otak soal definisi cantik,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam video tersebut.
Fenomena serupa juga dapat ditemukan di Indonesia melalui maraknya layanan kecantikan ilegal yang menawarkan berbagai prosedur dengan harga murah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa keinginan untuk memenuhi standar kecantikan dapat dimanfaatkan menjadi peluang bisnis tanpa mengutamakan keselamatan konsumen.
Tren kecantikan pada akhirnya bukan lagi sekadar persoalan penampilan. Ketika seseorang rela mempertaruhkan kesehatan demi mengikuti wajah yang sedang dianggap ideal, pertanyaannya bukan lagi “Seberapa cantik kita?”, melainkan “Seberapa jauh kita rela mengubah diri hanya untuk memenuhi standar orang lain?”(*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : YouTube Calon Sarjana