RADARTUBAN — Di era berkembangnya media sosial, makin banyak individu yang tanpa disadari menjalani pola hidup, mengejar karier, hingga mengadopsi standar keberhasilan yang identik.
Fenomena keseragaman gaya hidup ini menjadi sorotan tajam dalam pembahasan psikologi dan filsafat modern, sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Mikey Posada.
Sebelum era internet, cakupan pengaruh sosial manusia terbatas pada lingkungan komunitas lokal atau desa yang hanya terdiri dari belasan hingga puluhan orang.
Namun dalam beberapa dekade terakhir, peran lingkungan sosial tersebut telah digantikan oleh algoritma media sosial.
Jika sebelum era internet cakupan pembanding sosial manusia terbatas pada lingkungan komunitas lokal kecil, keberadaan algoritma media sosial kini mengambil alih peran ekosistem sosial tersebut.
Sistem pemrosesan data secara terus-menerus menyaring konten global dan memproyeksikan figur-figur yang dinilai paling efektif memicu perhatian publik.
Sistem pemrosesan data secara terus-menerus menyaring konten global dan memproyeksikan figur-figur yang dinilai paling efektif memicu perhatian publik.
Dampaknya, perantara yang semula bersifat eksternal terseret masuk ke ranah internal, sehingga menciptakan persepsi kompetisi tanpa henti dalam memperebutkan simbol status, penampilan fisik, dan kepemilikan materi.
Sistem algoritma menyaring ribuan hingga jutaan konten setiap hari, lalu menyajikan figur-figur yang dianggap paling berhasil memicu keinginan menonton dan meniru.
Paparan informasi yang terus-menerus ini secara tidak langsung menyeret perantara yang dulunya bersifat eksternal masuk ke dalam ranah internal.
Akibatnya, individu merasa selalu berada dalam kompetisi tanpa henti dengan orang-orang di seluruh dunia untuk memperebutkan simbol keberhasilan berupa kepemilikan barang, penampilan fisik, hingga pencapaian status sosial.
Dinamika kompetisi digital yang masif ini pada akhirnya berdampak langsung pada kesehatan mental dan memicu krisis identitas bagi generasi digital.
Upaya sebagian individu untuk keluar dari jebakan peniruan melalui tindakan ekstrem seperti menolak total modernitas atau mengisolasi diri sering kali dinilai tetap menjadi bentuk peniruan terselubung apabila masih didasari dorongan pembuktian sosial terhadap orang lain. (*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : YouTube Mikey Posada