Kenapa Makanan Viral Bikin Orang Rela Antre Berjam-jam? Ini Alasan Psikologisnya

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:48 WIB
Ilustrasi foto mengantre makanan viral. (Tangkapan layar YouTube Dari Suara)
Ilustrasi foto mengantre makanan viral. (Tangkapan layar YouTube Dari Suara)

RADARTUBAN- Fenomena antrean panjang demi mencicipi makanan yang sedang viral di media sosial kini sudah menjadi pemandangan biasa di berbagai daerah.

Banyak orang rela berdiri berjam-jam, berpanas-panasan, hanya untuk membeli sepiring jajanan atau secangkir minuman kekinian. Uniknya, setelah dicoba, rasa makanan tersebut sering kali biasa saja dan tidak sebanding dengan pengorbanan yang telah dikeluarkan.

Lantas, apa yang sebenarnya membuat orang begitu terobsesi?

Dikutip dari kanal YouTube Dari Suara dalam unggahan videonya yang bertajuk Kenapa Banyak Orang Rela Antre Demi Makanan Viral?, perilaku unik ini ternyata tidak berpusat pada lidah atau kualitas rasa makanan, melainkan pada dorongan psikologis dalam diri manusia.

Salah satu alasan utamanya adalah fenomena yang disebut effort justification atau pembenaran atas usaha.

Baca Juga: Mina Penggemar ENHYPEN Viral di Media Sosial, Dugaan Cyberbullying Jadi Sorotan

Ketika seseorang sudah mengorbankan banyak waktu, tenaga, dan uang demi mendapatkan sesuatu, otak secara otomatis berusaha mencari alasan agar pengorbanan tersebut tidak terasa sia-sia.

"Karena semakin banyak effort yang lu keluarin buat dapetin sesuatu, otak lu tuh bakal nganggap kalau hasil akhirnya itu worth," jelas narasi dalam video di kanal YouTube Suara tersebut.

Kondisi ini kian diperparah oleh kepungan media sosial. Unggahan foto maupun video dari orang lain dengan cepat memicu efek FOMO (Fear of Missing Out) atau rasa takut tertinggal tren.

 Melihat orang lain ikut memamerkan makanan hits membuat kita merasa harus ikut mencobanya agar tidak merasa terasing dari pergaulan modern.

Selain aspek psikologis internal, faktor teori ekonomi dan pemasaran juga memegang peranan penting. Dalam ilmu ekonomi, ada pemikiran dari ekonom legendaris Thorstein Veblen mengenai perilaku konsumsi manusia.

Veblen menjelaskan bahwa orang sering kali membeli suatu barang bukan karena fungsi atau kebutuhan utamanya, melainkan demi memamerkan status sosial serta gengsi kepada lingkungan sekitar.

Strategi tersebut kini dikemas makin rapi lewat trik pemasaran modern bernama drop culture. Produsen sengaja membatasi jumlah porsi, jam operasional, atau masa jualan produk mereka.

Kelangkaan buatan ini terbukti ampuh menciptakan kesan eksklusif dan memicu kepanikan calon pembeli untuk segera berburu sebelum kehabisan.

Pada akhirnya, fenomena antrean panjang makanan viral bukan lagi sekadar urusan mengisi perut yang lapar.

Lebih dari itu, antrean tersebut merupakan hasil perpaduan antara pembenaran psikologis diri sendiri, dorongan gengsi sosial di media sosial, serta strategi pemasaran cerdik yang memanfaatkan rasa penasaran masyarakat. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : YouTube Dari Suara
antrean panjang effort justication fomo makanan viral