Cara Mudah Menilai Kualitas Pakaian di Era Fast Fashion, Jangan Tertipu Harga Murah

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 14:48 WIB
Analisis mendalam terhadap struktur jahitan, bahan tekstil. (Tangkapan Layar / Bernadette Banner)
Analisis mendalam terhadap struktur jahitan, bahan tekstil. (Tangkapan Layar / Bernadette Banner)

RADARTUBAN-Dalam kurun waktu satu dekade terakhir, industri tekstil dunia mengalami pergeseran dramatis seiring pesatnya pertumbuhan tren ultra-fast fashion.

Pakaian yang beredar di pasaran kini diproduksi secara massal dengan biaya serendah mungkin, yang sayangnya sering kali mengorbankan daya tahan dan kualitas bahan.

Akibatnya, pakaian modern cenderung menjadi barang sekali pakai yang mudah rusak hanya dalam beberapa kali pemakaian.

Fenomena ini tidak hanya memicu dampak buruk terhadap lingkungan, melainkan juga mengikis pemahaman masyarakat mengenai cara menilai dan merawat pakaian.

Baca Juga: Epson Perkuat Dominasi di Industri Tekstil Digital Lewat Printer Dye-Sublimation Generasi Terbaru SC-F20030

Sebagai gambaran, di Inggris saja pada tahun 2021, rumah tangga diperkirakan membuang sekitar 546.000 ton pakaian yang tidak lagi digunakan. 

Situasi ini diperparah oleh fakta bahwa semakin banyak generasi muda yang tidak memiliki keterampilan dasar menjahit atau memperbaiki tekstil.

1. Menilai Konstruksi Pakaian: Tanda-Tanda Ketelitian Pembuatan

- Panjang Jahitan (Stitch Length): Salah satu indikator paling nyata dari pembuatan pakaian yang terburu-buru adalah ukuran jahitan yang terlalu panjang dan renggang.

Jahitan yang panjang memang mempercepat proses menjahit pabrik, tetapi membuat benang lebih mudah tersangkut, kendur, dan putus.

- Keselarasan Motif (Pattern Matching): Pada pakaian bermotif garis, kotak-kotak, atau tartan, penyesuaian garis motif pada garis sambungan jahitan lurus merupakan standar penting.

Pakaian yang tidak menyelaraskan motifnya menunjukkan pemotongan bahan yang asal-asalan serta tiadanya kontrol kualitas demi menghemat penggunaan kain.

- Uji Ketahanan Jahitan: Untuk menguji kekuatan sambungan kain, konsumen dapat memegang lipatan jahitan di bawah cahaya terang lalu menarik kedua sisinya secara perlahan.

Jika cahaya menerobos celah jahitan padahal kain tidak bersifat menerawang, hal tersebut menandakan adanya masalah struktural yang serius pada busana tersebut.

Sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Bernadette Banner, keberadaan benang yang terurai dan kualitas finishing yang buruk merupakan bentuk pengabaian kontrol kualitas di industri pakaian massal.

Baca Juga: Indonesia dan Filipina Sepakati Barter Tanpa Dolar AS, Tukar Bijih Besi dan Bahan Tekstil

"Sering kali konsumen tidak menyadari bahwa panjang jahitan yang terlalu besar dan benang terurai yang dibiarkan di dalam pakaian merupakan sinyal bahwa pekerja pabrik dituntut memproduksi pakaian dalam waktu yang sangat terbatas tanpa memperhatikan ketahanan jangka panjang," ungkap Bernadette Banner dalam analisisnya.

2. Memahami Kandungan Serat Kain dan Karakteristik Bahan

- Serat Alami vs Serat Sintetis: Serat alami seperti katun, linen, wol, dan sutra memiliki daya rekat kain yang baik serta sirkulasi udara yang optimal.

Sebaliknya, bahan sintetis seperti poliester, viskosa, dan akrilik dasarnya terbuat dari turunan plastik. Poliester tidak menyerap keringat dengan baik, mudah menimbulkan bau tidak sedap, serta melepaskan mikroplastik setiap kali dicuci.

- Pelapis Dalam (Lining): Keberadaan furing atau kain pelapis dalam pada jas, mantel, dan blazer sangat esensial untuk menjaga bentuk struktural pakaian, menyembunyikan konstruksi dalam, serta melindungi serat kain dari gesekan langsung dengan kulit.

Krisis kualitas pakaian saat ini menggarisbawahi pentingnya perubahan sudut pandang konsumen. Mengingat pakaian berkualitas rendah telah terlanjur membanjiri pasar, tanggung jawab perawatan kini berpindah kepada pembeli.

Dengan memahami indikator kualitas seperti ketebalan kain, kerapatan jahitan, jenis serat, dan teknik penyelesaian tepi, konsumen dapat lebih cermat dalam memilih pakaian secondhand maupun baru yang bertahan lama. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : YouTube Bernadette Banner
industri tekstil fashion pakaian