RADARTUBAN — Di tengah maraknya narasi distopia seperti krisis iklim, polusi udara perkotaan, dan kemajuan teknologi yang kian mengasingkan manusia dari alam, muncul sebuah gerakan sosial dan estetika baru yang populer di kalangan Gen Z.
Konsep ini dikenal dengan nama solarpunk. Dikutip dari kanal YouTube Cole Hastings, solarpunk memadukan elemen energi terbarukan, keberlanjutan, serta semangat punk yang menentang tatanan lama untuk membangun masa depan yang berwawasan lingkungan dan berbasis komunitas.
Gerakan ini berakar dari unggahan blog anonim bernama "Republic of the Bees" pada tahun 2008. Saat itu, blog tersebut mengulas tentang kapal kargo hibrida Beluga Skysail yang mengombinasikan sistem pemanfaatan angin kuno dengan teknologi navigasi modern.
Konsep awal ini menekankan bahwa kemajuan tidak harus selalu berarti membuang metode lama, melainkan menggabungkan kearifan masa lalu dengan inovasi masa kini demi menghemat energi.
Baca Juga: Krisis Iklim Bikin Ular Berbisa Makin Dekat ke Permukiman, Ini Peringatan Peneliti
Secara filosofis, solarpunk mengadopsi prinsip biomimicry. Biomimicry adalah pendekatan desain yang meniru sistem, mekanisme, dan elemen alam untuk menyelesaikan tantangan infrastruktur manusia.
Alam yang telah berevolusi selama jutaan tahun dinilai sangat efisien dalam mengatur suhu, mendaur ulang limbah, serta menghemat air.
Salah satu penerapannya adalah konsep desain pasif pada bangunan untuk meredam panas tanpa mengandalkan pendingin udara berdaya listrik tinggi secara berlebihan.
Meski menawarkan wawasan yang menyegarkan, wacana solarpunk kerap menghadapi tantangan realitas ketika hendak diterapkan dalam skala besar.
Gambaran visual seperti hutan vertikal pada gedung pencakar langit memerlukan perawatan yang sangat rumit, beban struktur bangunan yang berat, serta sistem irigasi yang presisi. Demikian pula dengan kebun di atap gedung dan panel surya atap.
Meski sangat membantu mengurangi efek pulau bahaya panas dan memanen energi bersih, keberadaannya tetap memerlukan dukungan jaringan listrik skala regional yang modern, sistem penyimpanan daya, hingga opsi energi bersih pendukung seperti nuklir dan hidro.
Solarpunk bukan sekadar estetika visual masa kini, melainkan sebuah panduan desain tata kota yang realistis apabila dipadukan dengan kebijakan publik, teknologi tepat guna, dan infrastruktur terencana.
Meskipun beberapa elemen visualnya tampak terlalu idealis, prinsip dasarnya memberikan dorongan positif bagi masyarakat global, khususnya generasi muda, dalam merancang masa depan yang lebih hijau, inklusif, dan humanis. (*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : YouTube Cole Hastings