Kenapa Olahraga Kini Jadi Ajang Pamer? Fenomena FOMO dan Joki Strava Mulai Disorot

Nadia Aulia • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 18:28 WIB
Ilustrasi tren olahraga di media sosial dapat memicu FOMO dan tekanan untuk terus terlihat produktif. (RADAR TUBAN/AI)
Ilustrasi tren olahraga di media sosial dapat memicu FOMO dan tekanan untuk terus terlihat produktif. (RADAR TUBAN/AI)

RADARTUBAN – Tren olahraga dan gaya hidup sehat saat ini semakin ramai di kalangan anak muda. Lari, pilates, padel hingga berbagai kelas kebugaran kini bukan sekadar aktivitas untuk menjaga kesehatan, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup yang kerap ditampilkan di media sosial.

Di tengah tren tersebut, muncul fenomena jasa joki Strava yang memperlihatkan bagaimana olahraga dapat bergeser menjadi ajang pencitraan dan validasi.

Munculnya fenomena ini menjadi sorotan dalam video kanal YouTube MALAKA berjudul “Olahraga, FOMO, dan Obsesi Jadi Produktif. 

Dalam pembahasannya, keberadaan joki Strava menunjukkan adanya tekanan sosial untuk menampilkan pencapaian olahraga kepada orang lain.

Statistik jarak, durasi, hingga kecepatan lari yang semestinya menjadi catatan pribadi justru berubah menjadi simbol produktivitas.

Baca Juga: Dukung Pengembangan Prestasi Olahraga, Bank Jatim Bangun Lapangan Futsal-Mini Softball Melalui Program CSR

Kondisi tersebut tidak lepas dari fenomena fear of missing out (FOMO), yakni rasa takut tertinggal dari tren maupun pencapaian orang lain. 

Ketika media sosial dipenuhi unggahan olahraga, seseorang dapat merasa harus ikut berlari, mengikuti kelas olahraga tertentu, atau memiliki perangkat kebugaran agar tidak dianggap tertinggal.

“Definisi sukses sekarang itu udah enggak cuman soal materi... tapi juga olahraga apa sih yang sekarang lu jalani, seberapa sehat lu, seberapa bugar lu,” jelas pembahasan dalam video tersebut.

Jika sebelumnya gaya hidup sering ditunjukkan melalui pesta dan konsumsi, kini tubuh bugar serta aktivitas olahraga tertentu dapat menjadi penanda status sosial baru.

Fenomena tersebut turut mendorong pertumbuhan industri wellness.

Berdasarkan data yang dibahas dalam video, nilai wellness economy global mencapai sekitar 5,6 triliun dolar AS pada 2023 dan diproyeksikan menembus 9 triliun dolar AS pada 2032. Industri ini mencakup kebugaran, teknologi kesehatan, makanan sehat, hingga wisata kebugaran.

Namun, perkembangan tersebut juga menyimpan persoalan. Industri wellness dinilai dapat memanfaatkan kecemasan dan rasa tidak cukup dalam diri konsumen.

 “Wellness industry itu juga bekerja dengan terus berusaha bikin kita tuh ngerasa kurang, ngerasa gagal, dan ngerasa nyesal kalau enggak ikut,” ungkap pembahasan dalam video.

Tekanan ini melahirkan productivity guilt, ketika seseorang merasa bersalah atau inferior karena tidak berolahraga, tidak mencapai target tertentu, atau tidak mengikuti tren kesehatan yang sedang populer.

Baca Juga: Kebutuhan Masyarakat Lebih Mendesak, DPRD Soroti Penggunaan Dana CSR untuk Fasilitas Olahraga Tuban

Olahraga yang semestinya menjadi kebutuhan tubuh akhirnya berubah menjadi kewajiban sosial untuk terlihat produktif.

 “Nilai kita enggak cuman berdasarkan seberapa jauh kita lari di Insta Story kita yang berisikan screenshot Strava,” tegas video tersebut.

Sehat bukan berarti harus selalu mengikuti tren, membeli fasilitas mahal, atau membuktikan pencapaian kepada orang lain.

Pesan akhirnya sederhana: lanjutkan olahraganya, tetapi jangan sampai olahraga merebut hal-hal berharga dalam hidup. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : YouTube MALAKA
tren olahraga fomo validasi joki strava