Bukan Sekadar Ikhlas, Psikiater Ungkap Kunci Pemulihan Trauma Lewat Rekonsolidasi Memori

Nadia Aulia • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 17:04 WIB
dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ, yang membahas proses penyembuhan trauma dan rekonsolidasi memori. (Tangkapan layar Youtube dr. Jiemi Ardian)
dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ, yang membahas proses penyembuhan trauma dan rekonsolidasi memori. (Tangkapan layar Youtube dr. Jiemi Ardian)

RADARTUBAN – Ketika seseorang mengalami trauma, nasihat untuk “ikhlas”, “menerima”, atau “berdamai dengan masa lalu” sering dianggap sebagai jalan menuju kesembuhan.

Padahal menerima bahwa sebuah peristiwa buruk telah berlalu, belum tentu membuat rasa sakitnya ikut menghilang. Saat kenangan tersebut muncul lagi , seseorang masih dapat merasakan takut, cemas, bahkan mengalami reaksi fisik seperti jantung berdebar, sesak napas, dan berkeringat.

Menurut psikiater sekaligus trauma therapist dr. Jiemi Ardian, pemulihan trauma tidak cukup hanya dengan meyakinkan diri bahwa semuanya telah berlalu.

Dalam penjelasannya di kanal YouTube, ia mengajak masyarakat memahami cara kerja memori dan respons emosional yang turut memengaruhi proses penyembuhan. 

“Jika kamu pikir traumamu sudah pulih,  kalau kamu sudah menerima dan berdamai dengan masa lalumu, maka sebenarnya kamu sudah terjebak pada mitos yang keliru,” ujar dr. Jiemi.

Baca Juga: Takut Mengeluarkan Uang? Bisa Jadi Itu Bukan Pelit, Melainkan Trauma Finansial 

Menurutnya, menerima kenyataan bahwa sebuah peristiwa telah terjadi memang penting. Namun, hal itu bukan berarti rasa sakit akibat trauma tetap dibiarkan begitu saja. 

Ia mengibaratkannya seperti seseorang yang sedang sakit gigi. Menerima rasa sakit tanpa berusaha mengobatinya tidak akan membuat rasa sakit tersebut hilang.

“Menerima trauma tanpa menghilangkan pemicu emosionalnya ibarat seseorang yang sedang mengalami sakit gigi, lalu berusaha menerima rasa sakit tersebut dengan harapan ketika dia menerima, sakit giginya hilang,” jelasnya.

Karena itu, langkah penting dalam pemulihan trauma adalah memahami bagaimana memori bekerja. Menurut dr. Jiemi, memori bukanlah rekaman CCTV yang tersimpan secara kaku dan tidak dapat diubah. Setiap kali seseorang mengingat kembali suatu peristiwa, memori tersebut dapat kembali terbuka dan diproses.

“Secara scientific memori kita bukan rekaman CCTV. Bayangin memori kita itu kayak file dokumen di komputer... saat kita memanggil memori traumatis sebenarnya kita lagi ngebuka file dokumen tadi, dan ketika kita ngebuka, file-nya kan jadi bisa diedit,” katanya.

Dalam proses mengingat tersebut, seseorang  dapat tanpa sadar memberikan makna baru terhadap pengalaman lama.

Pengalaman kegagalan, kehilangan, atau perlakuan buruk, misalnya, dapat membuat seseorang menyimpulkan bahwa dirinya bodoh, tidak berharga, tidak berdaya, atau bahwa dunia tidak aman. 

Makna-makna inilah yang kemudian dapat memperkuat rasa sakit ketika memori tersebut muncul kembali.

Maka dari itu , dr. Jiemi menjelaskan konsep rekonsolidasi memori (memory reconsolidation) sebagai salah satu pendekatan dalam memahami proses pemulihan trauma.

Ketika memori lama kembali diaktifkan, memori tersebut berada dalam kondisi yang memungkinkan untuk diproses dan diperbarui.

Salah satu caranya  adalah juxtaposition of contradictory experience, yaitu mempertemukan pengalaman emosional lama dengan pengalaman baru yang bertolak belakang.

Pengalaman baru tersebut dapat memberikan respons emosional yang berbeda ketika seseorang kembali berhadapan dengan memori traumatisnya.

Misalnya, pengalaman masa lalu membuat seseorang merasa tidak berharga dan tidak berdaya. Dalam proses terapi, pengalaman tersebut dapat dipertemukan dengan pengalaman baru yang menumbuhkan rasa berharga, aman, dan memiliki kendali. Dengan begitu, makna lama yang selama ini melekat pada memori dapat diproses kembali.

“Kita menggabungkan dua pengalaman yang sangat berbeda, kontradiktif. Pengalaman berbeda ini akan saling mengedit,” ungkapnya.

Dengan demikian, penyembuhan trauma bukan berarti memaksa diri melupakan kejadian yang pernah dialami atau sekadar mengatakan bahwa semuanya sudah baik-baik saja.

Prosesnya adalah mengolah kembali memori beserta emosi dan makna negatif yang melekat di dalamnya sehingga kenangan tersebut tidak lagi memiliki kekuatan yang sama untuk menimbulkan rasa sakit.

Dengan adanya proses ini, seseorang diajak memahami bahwa apa yang pernah terjadi dalam hidupnya tidak menentukan siapa dirinya saat ini.

Pengalaman traumatis memang menjadi bagian dari masa lalu, tetapi tidak membuat seseorang menjadi lebih rendah, lemah, atau tidak berharga.

“Trauma enggak mengubah kita. Trauma adalah kejadian yang ada di masa lalu yang tersimpan dalam memori yang tidak mengubah kita, seapa adanya kita tetap utuh dan berharga,” tutur dr. Jiemi. (*) 

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : Youtube Jiemi Ardian
nasihat rekonsolidasi ikhlas trauma