RADARTUBAN – Di era media sosial yang serba tersorot ini, memamerkan barang bermerek, gawai terbaru, hingga gaya hidup mewah seolah menjadi bagian dari keseharian.
Namun, kebiasaan tersebut tidak selalu muncul begitu saja ketika seseorang dewasa. Menurut pakar neurosains dokter Ryu Hasan, M.Sp.S., perilaku flexing dapat terbentuk dari pola asuh dan kebiasaan yang diterima dari sejak kanak-kanak.
Dalam Podcast Orator di kanal YouTube NasDem DPR RI, Ryu menjelaskan bahwa manusia memiliki dorongan untuk meningkatkan status sosial atau melakukan social climbing. Namun, dorongan tersebut perlu dibedakan dari flexing.
Baca Juga: Bukan Efek Podcast Denny Sumargo, Kuasa Hukum Tegaskan Tes HIV Ruben Onsu Sudah Disiapkan Sejak Lama
Flexing sendiri lebih mengarah pada perilaku menunjukkan atau memamerkan sesuatu demi mendapatkan pengakuan dari kelompok sosial.
Sementara, peningkatan status sosial secara nyata dapat dilakukan melalui cara seperti menempuh pendidikan atau meningkatkan kemampuan. Maka, flexing lebih berkaitan dengan kebutuhan terhadap validasi daripada pencapaian yang sebenarnya.
“Kalau anak dari kecil tidak pernah dilatih untuk pamer, sulit dia pamer. Kebiasaan flexing itu karena dilatih flexing sejak kecil,” ujarnya.
Menurutnya, kebiasaan ini dapat terbentuk melalui pola pengasuhan sehari-hari. Ia memberikan contoh ketika seorang anak menangis karena ingin memiliki gawai terbaru agar tidak kalah dari teman-temannya, kemudian orang tua langsung memenuhi keinginan tersebut.
“Tujuan bapak ibunya memenuhi keinginan anaknya, tapi ini sebenarnya latihan pamer,” katanya.
Dia menilai tindakan orang tua tersebut secara tidak langsung mengajarkan anak bahwa kepemilikan barang tertentu dapat digunakan untuk memperoleh pengakuan dari lingkungan. Kebiasaan yang terus diulang dapat terbawa hingga seseorang dewasa.
Dia juga menyoroti pengaruh budaya kompetisi terhadap pembentukan perilaku anak. Dia membandingkan pola pengasuhan dan pendidikan di Indonesia dengan Jepang.
Menurutnya, anak-anak di Jepang sejak dini dibiasakan untuk tidak terlalu menonjolkan diri secara individual. Keseragaman pakaian, sepatu, hingga tas sekolah menjadi salah satu contoh yang dapat mengurangi penonjolan status sosial.
Selain itu, dia menyebut anak-anak Jepang di bawah usia sembilan tahun lebih banyak diarahkan pada kegiatan kelompok dibandingkan ujian individual yang kompetitif. Adanya pola ini bertujuan membangun kemampuan bekerja sama sejak dini.
“Dalam masyarakat atau komunitas yang dilatih bekerja sama sejak kecil, kecenderungan flexing itu bisa turun,” jelasnya.
Baca Juga: Fenomena Orang Lebih Suka Mendengarkan Podcast daripada Membaca Buku
Sebaliknya, lingkungan yang terlalu menekankan persaingan individu dapat mendorong anak untuk terus menunjukkan keunggulan dibandingkan orang lain.
Jika kebutuhan terhadap validasi semakin kuat, perilaku flexing bahkan dapat berkembang menjadi tindakan yang tidak sehat, seperti memaksakan diri membeli barang mewah menggunakan pinjaman daring.
Menurutnya perubahan perilaku masyarakat tidak cukup dilakukan melalui nasihat atau jargon. Perubahan membutuhkan pembentukan lingkungan secara sistematis melalui kebijakan dari atas, termasuk dalam bidang pendidikan.
“Kalau kita mau mengubah perilaku komunitas, tidak pernah bisa dengan jargon atau nasihat. Itu harus keputusan dari atas (top-down),” pungkasnya. (*)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban