Sering Dianggap Mengganggu, Ini Alasan Ilmiah Kenapa Rasa Bosan Penting Bagi Kreativitas

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 17:15 WIB
potret saat kebosanan tiba kerap memicu rasa tidak nyaman. (pinterest.com)
potret saat kebosanan tiba kerap memicu rasa tidak nyaman. (pinterest.com)

RADARTUBAN– Terbiasa dimanjakan oleh media sosial dan informasi tanpa henti, ruang untuk sekadar merasa bosan kini kian ditinggalkan oleh masyarakat modern. 

Namun, ulasan dari kanal edukasi YouTube Kok Bisa? mengungkapkan fakta ilmiah unik bahwa manusia ternyata rela merasakan sakit fisik demi menghindari jeda tanpa aktivitas.

​Ulasan tersebut merujuk pada riset beberapa perguruan tinggi di Amerika Serikat. Para peserta diminta masuk ke ruang kecil tanpa gawai, buku, atau sarana hiburan selama 15 menit. Di atas meja, hanya tersedia satu tombol merah yang akan memberikan sengatan listrik jika ditekan.

Hasil eksperimen tersebut cukup mengejutkan. Hampir separuh peserta memilih menekan tombol merah dan menyetrum diri mereka sendiri daripada harus duduk diam. Bahkan, terdapat peserta yang sengaja menyetrum dirinya hingga 190 kali demi terhindar dari rasa bosan.

Baca Juga: Semakin Banyak Pilihan Hiburan, Kenapa Kita Justru Mudah Bosan?

Mengapa rasa sakit fisik justru lebih dipilih dibandingkan berdiam diri? Jawabannya terletak pada ketidaknyamanan saat manusia sendirian dengan pikirannya. Ketika distraksi eksternal dihentikan, otak secara otomatis beralih ke "mode alami". 

Dalam kondisi ini, pikiran cenderung memutar kembali kenangan masa lalu, memicu rasa ragu, hingga kecemasan. Keinginan menghindari overthinking inilah yang membuat seseorang refleks mencari dorongan dari luar.

​Di balik rasa tak nyaman itu, mode alami otak sebenarnya punya fungsi penting. Kebosanan justru memaksa otak berefleksi, merangkai ingatan, dan menghubungkan berbagai pengalaman menjadi gagasan baru.

​"Rasa bosan maksa otak kita buat bikin hiburan sendiri, ngacak memori, dan bikin ruang kosong di kepala kita penuh ide-ide gila," ungkap narator dalam tayangan Kok Bisa?.

Terbiasa melekat pada gawai membuat masyarakat modern makin kehilangan momen jeda. Kebiasaan membuka ponsel secara refleks di setiap kesempatan terus berulang walau tanpa pemicu pesan masuk.

Kuncinya bukan memusuhi teknologi, melainkan mengatur ritme aktivitas agar pikiran tetap mendapat ruang kosong secara seimbang.

Kebutuhan ruang kosong ini sangat mendesak bagi anak-anak yang berada dalam fase aktif pertumbuhan otak. Peran orang tua sangat diperlukan untuk mengarahkan kebiasaan digital yang sehat, salah satunya memanfaatkan fitur Google Family Link untuk membatasi durasi layar.

​"Di antara notifikasi dan video pendek yang enggak ada habisnya, coba sisain sedikit ruang kosong buat bengong. Siapa tahu di momen yang kelihatannya kosong itu, ide-ide brilian lagi nunggu buat muncul," tutur narator mengakhiri ulasannya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : YouTube Kok Bisa?
Masyarakat modern media sosial bosan