RADARTUBAN - Fenomena kemunculan anak-anak di bawah umur yang mengunggah konten nasihat bisnis, tips manajemen keuangan, hingga target pencapaian finansial di media sosial kini memicu sorotan tajam publik.
Tren yang marak beredar di platform TikTok dan YouTube Shorts tersebut memperlihatkan pembuat konten berusia belasan tahun yang aktif mempromosikan dan menjual produk digital berupa modul serta buku elektronik.
Praktik ini menimbulkan perdebatan sengit di kalangan pengamat media sosial dan warganet. Di satu sisi, kemampuan berbicara di depan kamera serta ketertarikan pada dunia kewirausahaan sejak dini dianggap sebagai potensi yang positif.
Namun, mayoritas publik mengkritik keras fenomena ini karena materi yang disampaikan dinilai tidak sejalan dengan kapasitas usia serta pengalaman hidup para kreator muda tersebut.
Baca Juga: X Ubah Sistem Monetisasi Kreator, Konten Orisinal Kini Jadi Syarat Utama Dapat Uang
"Banyak dari video tersebut memiliki penyampaian yang terasa agak aneh, kalimatnya terlalu rapi seperti sudah disusun, dan mereka hanya membaca naskah lalu memotong videonya sehingga berkesan bukan cerita dari pengalaman pribadi." Dikutip dari YouTube Satu Suara.
Pola konten yang diusung sebagian besar memiliki alur yang serupa, diawali dengan pembacaan narasi motivasi finansial lalu bermuara pada penawaran produk digital.
Skema penjualan ini turut dipertanyakan lantaran materi modul yang dijual sering kali hanya berisi panduan untuk kembali menjual modul serupa kepada orang lain, tanpa didasari pengalaman bisnis nyata di lapangan.
Selain masalah kredibilitas materi, dampak psikologis terhadap anak yang menjadi kreator konten turut menjadi perhatian utama.
Keterpaparan anak-anak terhadap perundungan dan kritik pedas warganet di ruang digital berpotensi mengganggu perkembangan emosional mereka, terutama ketika naskah yang dibawakan ditengarai merupakan hasil arahan pihak tertentu di belakang layar.
Keterampilan komunikasi dan minat berwirausaha pada anak sejak usia dini merupakan aset yang baik jika diarahkan pada koridor yang tepat.
Kendati demikian, komersialisasi konten motivasi bisnis dan penjualan produk digital oleh anak di bawah umur berisiko mengikis kredibilitas edukasi finansial sekaligus membahayakan kondisi psikologis sang anak akibat paparan respons negatif publik. (*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : YouTube Satu Suara