RADARTUBAN– Fenomena kelelahan mental atau burnout di kalangan generasi muda usia 20 hingga 30 tahun terus menjadi isu psikologis yang memprihatinkan.
Namun, berbeda dengan anggapan umum bahwa kelelahan tersebut melulu dipicu oleh tingginya beban kerja atau aktivitas perkuliahan, faktor utama penyebab stres berlebih ini justru berakar dari tingginya beban ekspektasi lingkungan sosial dan keluarga.
Dalam diskusi podcast di kanal Suara Berkelas, psikolog klinis Analisa Widyaningrum membeberkan bahwa budaya masyarakat Indonesia yang lekat dengan standar keberhasilan lingkungan kerap menjebak anak muda dalam kondisi stres berulang.
Tuntutan untuk selalu berprestasi yang sudah dibiasakan sejak anak-anak masih kecil, ternyata membuat banyak orang dewasa saat ini memiliki rasa takut yang sangat besar jika mereka sampai gagal di mata masyarakat.
Baca Juga: Lagu Teh Hijau dari Tulus dan Fenomena Burnout pada Generasi Muda
"Banyak anak muda yang burnout-nya itu bukan karena pekerjaan atau kuliah, tapi karena ekspektasi yang dikasih sama lingkungannya. Kesalahan terbesar yang sering dilakukan di usia 20 hingga 30 tahun adalah terlalu sibuk mendengar validasi orang lain dan berusaha untuk terus diterima," ungkap Analisa Widyaningrum.
Selain tekanan standar sosial, persoalan finansial juga menjadi pemicu utama meningkatnya gangguan kecemasan serta hilangnya arah hidup di kalangan dewasa muda.
Ketidakmampuan mengelola keuangan dengan baik yang berujung pada keterikatan utang lewat aplikasi, pada kenyataannya sering memperburuk keadaan batin seseorang sekaligus mendatangkan keributan dalam hubungan pribadi dan rumah tangga.
Guna mengatasi fase kehilangan arah dan pemulihan dari trauma mental, Analisa menekankan pentingnya kesadaran diri (self-awareness) serta keberanian mengambil tanggung jawab pribadi sebagai orang dewasa.
Setiap individu dianjurkan untuk mulai menyaring pengaruh luar, membatasi pencarian validasi di media sosial, dan fokus membangun support system yang sehat.
Langkah praktis untuk keluar dari jebakan pemikiran berlebih (overthinking) adalah dengan menetapkan batasan diri serta tetap konsisten mengambil aksi nyata harian.
Dengan fokus pada prioritas hidup dan memperkuat penerimaan diri, generasi muda diharapkan mampu memulihkan kesehatan mentalnya secara bertahap demi mencapai kualitas hidup yang lebih seimbang. (*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : Youtube Suara Berkelas