RADARTUBAN– Mengalokasikan separuh dari penghasilan bulanan untuk tabungan dan investasi sering kali dianggap mustahil, terutama bagi mereka yang berpenghasilan pas-pasan.
Namun, konten kreator keuangan Ninda Fer membeberkan bahwa kunci utama mencapai tingkat tabungan hingga 50 persen bukanlah nominal gaji yang besar, melainkan konsistensi dalam menerapkan kebiasaan finansial yang teratur.
Melalui video terbaru di kanal YouTube-nya, Ninda menekankan pentingnya metode pay yourself first, yaitu memotong gaji secara otomatis melalui fitur auto-debit untuk tabungan di hari pertama gajian sebelum digunakan untuk kebutuhan lain.
Di samping itu, ia mengingatkan agar tidak menyicil barang-barang yang harga jualnya turun drastis dalam waktu singkat, seperti ponsel pintar maupun kendaraan untuk keperluan sendiri.
Guna menekan pembelian impulsif (impulse buying), Ninda menyarankan penerapan "Aturan 3 Hari".
Metode ini mewajibkan seseorang untuk menunda pembayaran selama tiga hari saat hendak membeli barang non-pokok di atas Rp 300.000 untuk memastikan kebutuhan barang tersebut.
Prinsip penting lainnya adalah menghindari lifestyle creep atau gaya hidup yang meningkat seiring kenaikan gaji.
Setiap kali menerima kenaikan penghasilan, minimal 50 persen dari selisih kenaikan tersebut disarankan untuk segera dimasukkan langsung ke dalam portofolio investasi.
Dalam hal investasi, Ninda merekomendasikan instrumen yang terjangkau bagi pemula, seperti Exchange Traded Fund (ETF) saham global.
ETF dinilai lebih sederhana dan berbiaya rendah karena mengikuti indeks pasar saham besar tanpa dibebani biaya manajer investasi yang tinggi.
Upaya ini sekaligus menjadi cara membagi tabungan ke dalam beberapa jenis uang asing, dengan tujuan untuk menjaga agar harga harta yang dimiliki tidak ikut jatuh saat nilai uang rupiah sedang melemah.
Guna menjaga konsistensi keuangan jangka panjang, masyarakat diajak untuk menilai harga barang berdasarkan jam kerja efektif, membatasi paparan konten konsumtif di media sosial, serta memperlakukan alokasi tabungan sebagai kewajiban tagihan bulanan.
"Tidak ada kebiasaan keuangan yang memberikan hasil instan. Hal yang terpenting adalah melakukan langkah-langkah kecil secara rutin. Kunci kemenangan dalam mengelola keuangan jangka panjang bukanlah siapa yang paling pintar, melainkan siapa yang paling konsisten," tutup Ninda. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni