Kenapa Banyak Orang Indonesia Merokok? Ini Faktor yang Membuat Rokok Sulit Ditinggalkan

Puput Dwi Indrawati • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 12:33 WIB
Foto ilustrasi seseorang perokok. (YouTube kanal Menyelami Fakta)
Foto ilustrasi seseorang perokok. (YouTube kanal Menyelami Fakta)

RADARTUBAN- Fenomena tingginya angka perokok di tanah air seolah menjadi pemandangan sehari-hari yang tak pernah usai.

Asap rokok dengan mudah ditemui di sudut-sudut kota hingga pelosok desa, melibatkan berbagai kalangan tanpa memandang usia.

Lantas, apa sebenarnya yang membuat barang ini begitu lekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia?

Dilansir dari tayangan YouTube di Kanal Menyelami Fakta dalam videonya yang bertajuk Kenapa Banyak Orang Indonesia Adalah Perokok? terdapat sejumlah alasan mendasar yang saling berkaitan, mulai dari urusan psikologis, kebiasaan sosial, hingga celah regulasi.

Baca Juga: 60 Ribu Lebih Pemuda Tuban Jadi Perokok Aktif, Dokter Soroti Bahaya Nikotin

Dari sudut pandang ekonomi dan psikologi, kandungan nikotin dalam rokok memegang peranan besar.

Nikotin mampu memicu hormon dopamin yang memberikan rasa tenang sesaat. Efek ini kerap dijadikan pelarian instan bagi kelompok masyarakat kelas bawah yang merenovasi rasa lelah dan stres akibat tekanan hidup sehari-hari.

Tak hanya faktor individu, tekanan lingkungan dan budaya turut melanggengkan kebiasaan ini.

Dalam pergaulan sehari-hari, merokok sering kali menjadi syarat tidak tertulis untuk diterima dalam sebuah kelompok.

Dikutip dari penjelasannya, seseorang yang tidak ikut membakar rokok di tengah tongkrongan kerap dicap "cemen" atau kurang gaul, sehingga banyak orang akhirnya terpaksa ikut-ikutan demi menjaga gengsi.

Akses mendapatkan rokok pun tergolong sangat murah dan mudah. Ada tiga pilar utama yang membuat rokok di Indonesia terjangkau sebagai hiburan rakyat:

Pajak Rendah

Pemerintah berhati-hati menetapkan pajak agar industri rokok yang menyerap jutaan tenaga kerja tetap bertahan.

Sumbangan Cukai Fantastis

Cukai Hasil Tembakau (CHT) menyumbang sekitar 95 persen dari total penerimaan cukai nasional, atau menyumbang Rp170 triliun hingga Rp 220 triliun per tahun (sekitar 10–15 persen dari total pendapatan negara).

Baca Juga: Pemkab Tuban Ajak Warga Lebih Peduli dan Aktif Mencegah Peredaran Rokok Ilegal

Pasokan tembakau Melimpah

BPS mencatat produksi tembakau di Indonesia mencapai sekitar 200 ribu ton pada tahun 2022.

Faktor pelengkap lainnya adalah regulasi yang dinilai masih sangat longgar.

Mengutip pernyataan dari World Health Organization (WHO), Indonesia merupakan salah satu dari sedikit negara yang masih memperbolehkan iklan rokok tayang di televisi, meski ada pembatasan jam tayang.

Selain itu, aturan mengenai pembatasan umur pembeli hingga larangan merokok di tempat umum kerap diabaikan tanpa pengawasan ketat.

Dampaknya sangat terlihat jelas pada pola konsumsi harian.

Berdasarkan data BPS per Desember 2025, rata-rata pengeluaran per kapita masyarakat Indonesia untuk rokok dan tembakau mencapai Rp 88.750 per bulan. 

Angka ini menempatkan rokok sebagai prioritas pengeluaran tertinggi kedua dalam rumah tangga, tepat di bawah kelompok makanan dan minuman jadi.

Tingginya angka pengeluaran tersebut mempertegas bahwa rokok telah bergeser dari sekadar barang konsumsi biasa menjadi kebutuhan pokok harian yang sulit dilepaskan dari masyarakat. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
menyelami fakta pelosok desa nikotin industri merokok